Perang Thailand-Kamboja: Retaknya Aliansi Kedua Negara
Jumat, 25 Juli 2025 | 13:33 WIB
Bangkok, Beritasatu.com - Konflik antara Thailand dan Kamboja kembali menyita perhatian Asia Tenggara. Di balik tembakan senjata dan korban jiwa, tersimpan kisah retaknya persahabatan yang pernah erat antara dua tokoh kuat, Hun Sen dari Kamboja dan keluarga Shinawatra dari Thailand.
Hubungan kedua negara memang bukan tanpa riak. Berbagi garis perbatasan berhutan yang panjang, wilayah sengketa kerap menjadi sumber ketegangan.
Pada 2008 dan 2011, baku tembak berdarah menewaskan sekitar 40 orang. Namun, setiap kali ketegangan meruncing, kedua pihak biasanya cepat meredam api konflik. Sayangnya, tidak kali ini.
Dari Ranjau ke Konflik Terbuka
Melansir dari BBC, pertikaian terbaru dipicu ledakan ranjau darat yang melukai lima tentara Thailand. Keesokan harinya, baku tembak meletus.
Hingga Jumat (25/7/2025), sedikitnya 15 orang, sebagian besar warga sipil, dilaporkan tewas di pihak Thailand. Di Kamboja, setidaknya satu korban jiwa tercatat.
Bocoran Telepon yang Menghancurkan Kepercayaan
Akar masalah ternyata lebih dalam dari sekadar ranjau. Sebulan sebelumnya, hubungan bilateral memburuk drastis seusai Hun Sen membocorkan rekaman telepon pribadi dengan Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra.
Dalam percakapan tersebut, Paetongtarn menyebut Hun Sen sebagai “paman”, bahkan mengkritik komandan militernya sendiri.
Bocoran ini memicu kemarahan publik di Thailand dan membuatnya diberhentikan sementara dari jabatannya. Kini, Mahkamah Konstitusi Thailand tengah mengkaji petisi pemecatannya.
Mengapa Hun Sen memilih langkah ekstrem ini? Banyak yang menduga, ini bukan sekadar diplomasi biasa, melainkan strategi politik yang disengaja.
Persahabatan Lama yang Kini Retak
Kedekatan antara keluarga Shinawatra dan Hun Sen terjalin sejak lama. Dahulu, hubungan personal itu menjadi jembatan untuk meredakan konflik. Namun, kini strategi itu justru dianggap bumerang.
Di masa lalu, para lawan Thaksin menudingnya lebih mengutamakan kepentingan Kamboja. Tahun 2014, ketika pemerintahan Yingluck digulingkan, Hun Sen bahkan membuka pintu bagi pendukungnya mencari perlindungan di Phnom Penh.
Keduanya juga punya rekam jejak kerja sama dalam isu-isu kontroversial. Pemulangan paksa pengungsi politik Kamboja oleh Thailand, penculikan aktivis Thailand di Kamboja, hingga penembakan oposisi Kamboja di Bangkok memperlihatkan adanya hubungan rumit antara aparat kedua negara.
Retorika Politik dan Ancaman Perdagangan
Bocornya rekaman telepon jadi pukulan telak bagi keluarga Shinawatra. Thaksin dan Paetongtarn merasa dikhianati, dan suasana pun berubah menjadi perang kata-kata.
Di tengah ketegangan, Thailand mulai menyelidiki jaringan bisnis Kamboja, termasuk dugaan aktivitas perjudian ilegal.
Buntutnya, perdagangan lintas perbatasan senilai miliaran dolar per tahun terhenti. Thailand bahkan mengusir duta besar Kamboja dan memanggil pulang utusannya.
Pemerintahan dan Krisis
Kedua negara kini berada di bawah tekanan. Di Thailand, pemerintahan koalisi yang rapuh tengah bergulat dengan stagnasi ekonomi dan ancaman tarif AS. Mereka tidak bisa terlihat lemah di hadapan publik.
Sementara itu, Kamboja juga belum pulih dari dampak pandemi. Pariwisata, tulang punggung ekonominya sekarat karena wisatawan Tiongkok enggan datang akibat reputasi buruk pusat penipuan online di negara itu.
Dalam situasi genting ini, Hun Sen kembali tampil ke garis depan. Meski tidak lagi menjabat sebagai perdana menteri, ia justru memimpin narasi keras terhadap Thailand dan Thaksin.
Ia bahkan mengeklaim memiliki dokumen rahasia yang dapat menjerat Thaksin dalam kasus penghinaan terhadap monarki Thailand, sebuah pelanggaran berat.
Jalan Menuju Perdamaian Masih Terbuka?
Di tengah panasnya perang Thailand-Kamboja ini, satu pertanyaan besar masih menggantung, yakni mungkinkah ini semua hanya manuver politik Hun Sen untuk mengangkat citra nasionalisnya? Ataukah ini cara kejam untuk meninggalkan Thaksin, yang pengaruhnya mulai pudar?
Hun Sen maupun Thaksin adalah sosok veteran yang punya cukup pengalaman untuk keluar dari krisis jika mereka mau.
ASEAN pun kini diuji. Organisasi regional yang bertujuan mencegah konflik antaranggota ini memiliki tanggung jawab moral untuk turun tangan. Beberapa negara di kawasan diyakini memiliki kepentingan untuk mendorong dialog damai.
Namun, selama retorika panas dan ego pribadi mendominasi, harapan untuk deeskalasi bisa semakin menjauh.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




