ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Jumlah Wamil Korea Selatan Turun 20 Persen Imbas Krisis Demografi

Senin, 29 September 2025 | 11:24 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
Militer Korea Selatan hadapi krisis personel akibat penurunan tajam pria usia wajib militer, mengancam kesiapan operasional di tengah populasi menua dan kelahiran rendah.
Militer Korea Selatan hadapi krisis personel akibat penurunan tajam pria usia wajib militer, mengancam kesiapan operasional di tengah populasi menua dan kelahiran rendah. (Korea Times/DOK)

Jakarta, Beritasatu.com - Jumlah wajib militer Korea Selatan terus menurun seiring krisis demografi yang melanda negeri Ginseng. Data terbaru menunjukkan pasukan aktif Korea Selatan kini hanya sekitar 450.000 orang, turun 20% dari 690.000 pada 2019.

Melansir CNBC, Senin (29/9/2025), penurunan ini dipicu angka kelahiran yang anjlok ke level terendah dunia. Tingkat kelahiran total (TFR) Korea Selatan hanya 0,748 pada 2024, sedikit naik dari rekor 0,721 pada 2023, tetapi masih jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 1,43 dan angka penggantian populasi 2,1.

Kondisi ini bukan hanya mengurangi angkatan kerja sipil, tetapi juga berdampak langsung pada ketersediaan wajib militer. Padahal, Korea Selatan secara teknis masih berperang dengan Korea Utara karena Perang Korea 1950-1953 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

ADVERTISEMENT

Jumlah pasukan aktif yang menyusut menimbulkan kekhawatiran terhadap kesiapan militer Korea Selatan, terutama jika ketegangan dengan Korea Utara meningkat. Negeri tetangga tersebut diketahui memiliki salah satu kekuatan militer terbesar di dunia dengan sekitar 1,23 juta personel aktif.

Meski pertahanan Korea Selatan diperkuat oleh 28.500 tentara Amerika Serikat dan perjanjian aliansi militer dengan Washington, penurunan jumlah wajib militer tetap menjadi ancaman jangka panjang.

Pemerintah Korea Selatan telah berupaya keras menekan dampak krisis demografi. Pada Maret 2025, pemerintah merombak sistem pensiun untuk pertama kalinya dalam 18 tahun, memperpanjang keberlanjutan dana pensiun hingga 2071.

Selain itu, Seoul menggelontorkan lebih dari US$ 270 miliar selama 16 tahun terakhir guna mendorong angka kelahiran, mulai dari bonus kelahiran, tunjangan pasangan muda, hingga insentif khusus bagi keluarga dengan tiga anak atau lebih. Bahkan sempat ada wacana membebaskan pria dari wajib militer jika memiliki tiga anak sebelum usia 30 tahun.

Namun, para pakar menilai kebijakan ini hanya berdampak kecil. “Saya rasa kebijakan kependudukan tidak akan mampu meningkatkan tingkat kelahiran secara signifikan,” kata ekonom politik dari American Enterprise Institute (AEI) Nicholas Eberstadt.

Meski tantangan berat di depan mata, sejumlah analis percaya Korea Selatan masih bisa beradaptasi melalui inovasi teknologi, kebijakan imigrasi, serta reformasi struktural.

Sejarah panjang keajaiban Sungai Han menunjukkan kemampuan Korea Selatan bangkit dari keterpurukan pascaperang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Wali Kota Bekasi Dukung Wajib Militer untuk Pelajar Bermasalah

Wali Kota Bekasi Dukung Wajib Militer untuk Pelajar Bermasalah

JAWA BARAT

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT