Krisis Politik Macron, Sébastien Lecornu Kembali Jadi PM Prancis
Minggu, 12 Oktober 2025 | 12:04 WIB
Paris, Beritasatu.com - Presiden Prancis Emmanuel Macron kembali menunjuk Sébastien Lecornu sebagai perdana menteri (PM) Prancis, hanya beberapa hari setelah pemerintahan sebelumnya yang juga dipimpin Lecornu bertahan kurang dari satu hari. Penunjukan ulang ini mencerminkan krisis politik mendalam yang kini melanda pemerintahan Macron.
Setelah menunda keputusan hingga larut malam pada Jumat (10/10/2025), Macron akhirnya meminta Lecornu, sekutu dekatnya dari kubu tengah, untuk kembali membentuk pemerintahan. Langkah tersebut dinilai sebagai tanda Macron telah kehabisan opsi politik di tengah tekanan dari berbagai pihak.
“Seseorang merasa semakin sendirian, semakin kaku ia dalam posisinya,” ujar Marine Tondelier, pemimpin Partai Hijau, seusai pertemuan antara Macron dan sejumlah pimpinan partai politik.
Situasi politik di Paris kini digambarkan sebagai kekacauan tragikomik. Prancis, salah satu dari lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan kekuatan nuklir dunia, kini dihadapkan pada ketidakstabilan pemerintahan yang jarang terjadi dalam sejarah modernnya.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh pemimpin sayap kanan, Marine Le Pen yang menyebut situasi tersebut sebagai “tontonan yang menyedihkan”, dan oleh sekutunya Jordan Bardella, pemimpin partai Rassemblement National (RN) yang menuntut pembubaran parlemen.
“Lecornu II adalah lelucon buruk, aib demokrasi, dan penghinaan bagi rakyat Prancis,” kata Bardella dalam pernyataannya.
Ia mendesak Macron untuk menggelar pemilu legislatif baru.
Macron kini menghadapi tekanan besar setelah dua kali gagal membentuk pemerintahan stabil. Sejak awal tahun 2025, ia telah menunjuk tiga perdana menteri dari kalangan moderat dan kanan-tengah, tetapi semua gagal meraih dukungan parlemen.
Analis menilai Macron terjebak dalam strategi politik yang defensif, enggan merangkul blok kiri-tengah meskipun koalisi partai-partai sayap kiri meraih lebih banyak kursi dalam pemilu legislatif 2024.
“Alih-alih mencari kompromi, Macron justru semakin memperkuat kekuasaannya dengan basis politik yang semakin sempit,” tulis editorial harian Le Monde.
Mereka juga menyoroti isolasi politik Macron yang belum pernah separah ini selama 8 tahun kepemimpinannya.
Krisis ini diprediksi akan memperlemah posisi Macron di dalam negeri maupun di Eropa, terutama menjelang pertemuan Dewan Eropa dan diskusi penting mengenai kebijakan pertahanan bersama.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




