ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Invasi AS ke Venezuela Berisiko Picu Konflik Horizontal Berkepanjangan

Selasa, 6 Januari 2026 | 14:54 WIB
CN
MK
Penulis: Chandra Adi Nurwidya | Editor: MBK
Presiden Venezuela Nicolas Maduro berpidato di hadapan pendukungnya di Karakas.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro berpidato di hadapan pendukungnya di Karakas. (AP/Matias Delacroix)

Yogyakarta, Beritasatu.com – Invasi Amerika Serikat (AS) ke Venezuela dinilai berpotensi memicu konflik horizontal yang berkepanjangan di tengah masyarakat.

Penangkapan Presiden Nicolás Maduro disebut tidak hanya mengguncang stabilitas politik nasional, tetapi juga membuka peluang terjadinya perlawanan politik berulang yang sulit dihentikan.

Pakar sosiologi politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Zuly Qodir menilai dinamika yang terjadi di Venezuela tidak bisa dilepaskan dari karakter sosial-politik Amerika Latin yang sejak lama memiliki tradisi perlawanan politik yang kuat. Dalam banyak kasus, krisis politik di kawasan tersebut kerap berujung pada instabilitas sosial yang berkepanjangan.

Zuly menyebut Venezuela mulai menunjukkan pola konflik yang mirip dengan sejumlah negara Amerika Latin lainnya, di mana pergantian kekuasaan yang tidak didasarkan pada legitimasi kuat justru memicu ketegangan sosial. Kondisi tersebut, menurutnya, sangat berisiko memperdalam polarisasi di masyarakat.

ADVERTISEMENT

“Ketika pemimpin tertinggi sebuah negara ditangkap oleh kekuatan asing, risikonya sangat besar. Ini bukan sekadar pergantian kekuasaan, tetapi dapat memicu konflik horizontal di tengah masyarakat,” ujar Zuly, Selasa (6/1/2026).

Ia menjelaskan, dalam situasi krisis legitimasi, potensi benturan antarwarga menjadi sangat terbuka. Konflik bisa terjadi antara kelompok pendukung pemimpin yang ditangkap dengan kelompok yang mendukung pemerintahan baru hasil intervensi asing. Menurutnya, konflik semacam ini cenderung terus berulang.

“Perlawanan itu tidak berhenti satu kali. Hari ini satu kelompok berkuasa karena dukungan asing, besok kelompok lain akan melawan. Siklus ini terus berulang dan tidak membawa kebaikan bagi masyarakat,” jelas dosen ilmu pemerintahan UMY tersebut.

Zuly menambahkan, konflik horizontal yang berlarut-larut akan melemahkan kapasitas negara dalam menjalankan fungsi dasarnya, mulai dari menjaga ketertiban hingga menyediakan layanan publik. Masyarakat pun hidup dalam ketidakpastian politik yang berkepanjangan.

“Secara sosiologis, ini kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Negara menjadi rapuh, masyarakat terbelah, dan stabilitas jangka panjang sulit dicapai,” tegasnya.

Menurut Zuly, selama pergantian kekuasaan masih dilakukan melalui tekanan dan intervensi asing, bayang-bayang konflik horizontal dan krisis legitimasi akan terus mengancam Venezuela. “Jika konflik ini tidak dikelola dengan hati-hati, yang terjadi bukan perbaikan, melainkan krisis yang semakin dalam,” pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Di Ambang Invasi Amerika, Kuba Bersiap Hadapi 'Perang Total'

Di Ambang Invasi Amerika, Kuba Bersiap Hadapi 'Perang Total'

INTERNASIONAL
Dituding Tak Mau Singgung AS, Begini Respons Kemenlu

Dituding Tak Mau Singgung AS, Begini Respons Kemenlu

INTERNASIONAL
Invasi AS ke Venezuela Buat Permintaan Asuransi Penerbangan Melonjak

Invasi AS ke Venezuela Buat Permintaan Asuransi Penerbangan Melonjak

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon