ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

AS Siap Rayu Warga Greenland dengan Tawaran Rp 1,6 M Per Orang

Jumat, 9 Januari 2026 | 13:36 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Anak-anak bermain di permukaan es di Nuuk, Greenland.
Anak-anak bermain di permukaan es di Nuuk, Greenland. (AP/AP)

Washington, Beritasatu.com. –  Pemerintahan Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah membahas rencana kontroversial untuk memberikan kompensasi tunai kepada setiap warga Greenland. Langkah ini diduga sebagai upaya untuk membujuk mereka memisahkan diri dari Denmark dan beralih ke pengaruh Washington.

Melansir laporan Reuters pada Kamis (8/1/2026), empat sumber internal mengungkapkan bahwa penasihat Gedung Putih sedang mendiskusikan pembayaran sekaligus (lump sum) guna memengaruhi pandangan publik di pulau tersebut. Tujuannya adalah mendorong kemerdekaan Greenland dari Denmark, yang kemudian membuka jalan bagi reunifikasi dengan Amerika Serikat.

Tawaran Fantastis hingga $100.000 per Warga Meski metode pelaksanaannya masih dalam tahap penggodaan, dua sumber menyebutkan angka pembayaran berkisar antara US$ 10.000 hingga US$ 100.000 (sekitar Rp 1,6 miliar) per individu.

ADVERTISEMENT

Gedung Putih tidak membantah kabar mengenai diskusi "pembelian" Greenland ini. Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump dan timnya memang "sedang mempertimbangkan akuisisi" tersebut. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dijadwalkan bertemu dengan delegasi Denmark di Washington pekan depan untuk membahas status wilayah Arktik tersebut.

Momentum Geopolitik dan Nilai Strategis Diskusi mengenai Greenland dilaporkan semakin mendesak setelah Washington melancarkan operasi penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, pada awal Januari. Penasihat Gedung Putih ingin memanfaatkan momentum kampanye luar negeri tersebut untuk memajukan tujuan geopolitik Trump.

Secara kalkulasi, jika AS memberikan US$ 100.000 kepada seluruh 57.000 penduduk Greenland, total biaya yang dikeluarkan adalah US$ 5,7 miliar. Angka ini dinilai "sangat layak" bagi Washington mengingat nilai strategis pulau tersebut karena:

  • Pertahanan: Lokasi strategis di jalur terpendek antara Amerika Utara dan Eropa.
  • Kekayaan Alam: Cadangan mineral melimpah yang belum dieksploitasi.
  • Luas Wilayah: Memiliki luas 2,16 juta kilometer persegi, menjadikannya pulau terbesar di dunia.


Baca Juga: Ambisi Trump Ambil Alih Greenland, Mantan Pejabat AS Sentil Soal NATO

Meski AS terus meningkatkan tekanan, pemerintah Denmark dan para pemimpin Greenland secara konsisten menegaskan bahwa wilayah mereka tidak untuk dijual. Hasil jajak pendapat terbaru pun menunjukkan mayoritas penduduk setempat menolak aneksasi oleh Amerika Serikat.

Respon keras juga datang dari komunitas internasional. Pada 7 Januari 2026, aliansi negara besar termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Polandia mengeluarkan pernyataan bersama yang menentang keras ambisi AS. Mereka menekankan komitmen global terhadap prinsip kedaulatan, integritas wilayah, dan kekebalan perbatasan negara yang berdaulat.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon