Serang Paus Leo XIV, Trump Ulang Konflik Era Fransiskus
Selasa, 14 April 2026 | 13:36 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Ketegangan antara Donald Trump dan Paus Leo XIV semakin memanas setelah presiden Amerika Serikat (AS) itu melontarkan kritik keras terhadap pemimpin Vatikan tersebut.
Pernyataan ini memicu perhatian global karena memperlihatkan benturan antara kepentingan politik dan nilai moral keagamaan di tingkat internasional.
Melalui unggahan di media sosial, Donald Trump menyebut Paus Leo XIV sebagai sosok yang lemah dalam menghadapi kejahatan serta menilai pandangannya berpotensi merugikan kebijakan luar negeri AS. Ia juga secara terbuka menyatakan ketidaksukaannya terhadap pemimpin gereja yang mengkritik presiden AS.
Trump bahkan menegaskan dirinya bukan penggemar Paus Leo, sekaligus mempertanyakan sikap Vatikan terkait isu global seperti konflik Iran dan kebijakan militer AS.
Dalam pernyataan lainnya, Trump menyindir pandangan Paus yang dianggap terlalu lunak terhadap isu senjata nuklir dan kebijakan luar negeri, serta meminta Paus untuk fokus pada peran religius, bukan politik.
Ia juga mengaitkan terpilihnya Paus Leo XIV dengan posisinya di Gedung Putih, sebuah klaim yang memicu kontroversi luas.
Respons Paus Leo XIV terhadap Kritik
Ketegangan ini bermula dari sikap Paus Leo XIV yang sebelumnya menegur retorika perang, khususnya terkait konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Dalam pernyataan publik, Paus mengecam ancaman penghancuran Iran sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima serta menyerukan penghentian pertumpahan darah. Ia juga menyebut kekerasan tersebut sebagai bentuk khayalan kemahakuasaan yang memicu konflik global.
Menanggapi kritik Trump, Paus menegaskan dirinya tidak ingin terlibat dalam perdebatan politik. Ia menekankan bahwa perannya adalah menyuarakan perdamaian, bukan menjadi aktor politik.
Perbedaan Pandangan Politik vs Moralitas
Perseteruan ini mencerminkan perbedaan mendasar antara dua pendekatan, Trump mengusung kebijakan luar negeri berbasis kekuatan dan keamanan nasional, sementara Paus Leo XIV menekankan nilai moral, perdamaian, dan ajaran Injil.
Ketegangan semakin terlihat ketika Paus juga mengkritik kebijakan imigrasi garis keras pemerintahan Trump, bahkan mempertanyakan apakah kebijakan tersebut dapat disebut prokehidupan.
Benturan ini memperlihatkan perbedaan antara pendekatan pragmatis dalam politik dengan nilai-nilai universal yang diusung oleh Vatikan.
Mengulang Konflik dengan Paus Fransiskus
Perseteruan dengan Vatikan bukan hal baru bagi Donald Trump. Sebelumnya, ia juga pernah berselisih dengan Paus Fransiskus. Salah satu konflik paling dikenal terjadi pada 2016 saat Paus Fransiskus mengkritik rencana pembangunan tembok perbatasan AS–Meksiko.
“Seseorang yang hanya berpikir membangun tembok, bukan jembatan, bukanlah seorang Kristen,” ujar Paus Fransiskus.
Komentar tersebut memicu reaksi keras dari Trump, yang menyebutnya sebagai pernyataan memalukan dan menilai Vatikan terlalu politis. Perbedaan keduanya tidak hanya terbatas pada satu isu, tetapi mencakup berbagai kebijakan seperti imigrasi dan perlindungan pengungsi. Vatikan mendorong pendekatan humanis, sementara Trump lebih menekankan keamanan nasional.
Konflik terbaru antara Donald Trump dan Paus Leo XIV menunjukkan eskalasi baru dalam hubungan antara politik dan agama di panggung global. Perseteruan ini tidak hanya menarik perhatian publik, tetapi juga memicu reaksi internasional, termasuk kritik dari sejumlah pemimpin dunia.
Di tengah konflik yang terus berkembang, Paus Leo XIV tetap menegaskan komitmennya pada perdamaian, sementara Donald Trump mempertahankan pendekatan kebijakan luar negeri yang tegas.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




