Mengais Rezeki di Gunungan Sampah Bantargebang Bekasi
Sabtu, 14 Februari 2026 | 16:50 WIB
Bekasi, Beritasatu.com - Di tengah gunungan sampah TPST Bantargebang, Kota Bekasi, kehidupan terus berdenyut. Bagi sebagian orang, limbah tak lagi bernilai. Namun, bagi para pemulung, tumpukan sampah justru menjadi sumber penghidupan yang menopang kebutuhan sehari-hari.
Suena (37), pemulung asal Indramayu, adalah satu dari ribuan pekerja informal yang menggantungkan nasib di tempat pembuangan sampah terbesar di Indonesia tersebut. Sejak kecil, ia telah akrab dengan lingkungan Bantargebang.
Aktivitas memulung sudah dijalaninya selama puluhan tahun. Orang tuanya pun pernah bekerja di lokasi yang sama sebelum akhirnya pulang ke kampung halaman. Kini, Suena tetap bertahan di Bantargebang bersama suaminya.
“Di sini tinggal sama suami,” jawab Suena kepada Beritasatu.com, Sabtu (14/2/2026).
Setiap hari, plastik dan ember bekas menjadi barang utama yang dikumpulkannya. Jika kondisi memungkinkan, dua karung barang bekas dapat terkumpul dalam sehari.
Ia memulai aktivitas sejak pagi hingga malam. Tak jarang, Suena menyusul suaminya memulung pada malam hari demi menambah penghasilan.
“Kadang-kadang nyusul mulung. Kadang nyari ikut nyari di situ juga," ungkap Suena.
Risiko bekerja di gunungan sampah bukan perkara kecil. Ancaman longsor selalu menghantui, terutama saat musim hujan. Namun kondisi ekonomi membuatnya tetap bertahan.
“Takut longsor saja, tetapi mau di mana lagi? Orang kerjanya begitu. Kalau tidak kerja, ya tidak makan," ujarnya.
Dari hasil memulung, Suena memperoleh penghasilan sekitar Rp 100.000 hingga Rp 120.000 per hari. Pendapatan itu harus dikelola untuk kebutuhan hidup di Bekasi sekaligus menopang keluarga di kampung.
“Kadang Rp 120.000, kadang Rp 100.000. Dicukup-cukupin saja," katanya.
Suena memiliki tiga anak yang tinggal di kampung halaman. Setiap pekan, sebagian penghasilannya disisihkan untuk kebutuhan mereka.
“Iya, masih. Paling nyisihin Rp 20.000 buat di kampung. Seminggu kirim. Untuk kebutuhan sehari-hari, buat sekolah anak juga," tuturnya.
Keinginan untuk berganti pekerjaan sempat terbersit. Namun keterbatasan pendidikan dan keterampilan menjadi kendala utama.
“Pengen ganti profesi. Cuma ya gimana, tidak sekolah. Kalau di kampung paling kalau ada yang nyuruh kerja. Kalau di sini kan ada saja tiap hari kerjaan,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




