Geram Solar Langka, Warga Demak Adang Pikap Berisi 2 Ton BBM Subsidi
Kamis, 18 Juni 2026 | 20:36 WIB
Demak, Beritasatu.com — Keresahan akibat kelangkaan solar subsidi untuk melaut mendorong warga pesisir Kabupaten Demak, Jawa Tengah, bertindak. Warga mengadang sebuah mobil pikap yang diduga mengangkut 2 ton solar subsidi secara ilegal dan membawanya ke Polres Demak untuk diproses lebih lanjut.
Aksi tersebut terjadi di Desa Tempuran, Kecamatan Demak, Rabu (17/6/2026). Warga menghentikan satu unit mobil pikap bernomor polisi H 8914 RE yang ditutupi terpal karena dicurigai membawa BBM jenis solar subsidi dalam jumlah besar.
Kecurigaan warga muncul setelah kendaraan tersebut beberapa kali terlihat keluar-masuk stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) di Kecamatan Wedung sambil membawa puluhan jeriken. Padahal, dalam beberapa waktu terakhir para nelayan setempat mengeluhkan sulitnya memperoleh solar subsidi untuk melaut.
Setelah diperiksa, mobil tersebut diketahui mengangkut sekitar 2 ton solar subsidi yang disimpan dalam 60 jeriken.
Sopir pikap bernama Jalil mengaku hanya bertugas mengangkut solar dari SPBN Wedung menuju wilayah Wonosalam, Demak. Ia mengaku menerima upah Rp 300.000 setiap perjalanan.
"Ini bawa solar subsidi 2 ton, mau dibawa ke Trengguli. Dapat upah Rp 300.000 per rit. Sehari bisa angkut dua sampai tiga kali. Ini solar untuk nelayan, sudah berjalan 1 tahun. Solar ini dikirim dari SPBN di Wedung," ujar Jalil, Kamis (18/6/2026).
Pengakuan tersebut makin memicu kekhawatiran warga terkait dugaan penyalahgunaan BBM subsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi nelayan.
Salah seorang warga, Rokhani, mengatakan aksi pengadangan dilakukan karena masyarakat sudah lama resah melihat dugaan penyelewengan solar subsidi yang berdampak langsung pada nelayan kecil.
"Saya dahulu nelayan, tahu sulitnya cari solar. Kami resah dengan kegiatan seperti ini, jadi saya hentikan. Ternyata benar, ini solar peruntukannya untuk nelayan, tetapi justru dikirim untuk keperluan lain yang lokasinya jauh dari nelayan. Akibatnya, nelayan sulit mendapatkan BBM," kata Rokhani.
Menurutnya, kelangkaan solar membuat biaya operasional melaut meningkat dan menyulitkan nelayan mencari nafkah.
Seusai mengadang pikap tersebut, warga membawa mobil pikap, sopir, dan kernet ke Polres Demak. Hingga Kamis sore, kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait kasus tersebut.
Namun, polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu unit mobil pikap, 60 jeriken berisi sekitar 2 ton solar subsidi, serta dua orang yang berada di dalam kendaraan tersebut untuk kepentingan penyelidikan.
Warga berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas dugaan penyelewengan BBM subsidi tersebut. Mereka menilai praktik semacam itu sangat merugikan nelayan kecil yang bergantung pada ketersediaan solar subsidi untuk menjalankan aktivitas melaut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




