Akses Terputus, Warga Ponorogo Nekat Gunakan Kereta Gantung Darurat
Sabtu, 14 Februari 2026 | 14:14 WIB
Ponorogo, Beritasatu.com - Ratusan warga Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, mempertaruhkan nyawa setiap hari untuk menyeberangi Sungai Jabak menggunakan kereta gantung. Rusaknya jembatan utama membuat warga nekat membuat kereta gantung secara swadaya.
Akses jembatan yang sebelumnya menghubungkan Desa Gedangan dengan Desa Depok, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, terputus total pada 2 Januari 2026 akibat diterjang banjir.
Selama sebulan terakhir, warga mengandalkan kereta gantung sederhana untuk mendapatkan akses pendidikan, ekonomi, dan layanan kesehatan.
Kereta gantung darurat ini dibuat warga dengan cara seadanya, hanya menggunakan penyangga kayu dan tali seling yang ditambatkan dari ujung ke ujung.
Warga tidak punya pilihan lain, karena jika harus memutar, maka jarak yang ditempuh bisa mencapai lebih dari 20 kilometer. Setiap hari, sekitar 10 anak-anak sekolah, mulai dari SD hingga SMA, menggunakan kereta gantung ini untuk pergi ke sekolah.
Selain itu, warga juga memanfaatkannya untuk bekerja atau mencari pakan di Kabupaten Trenggalek, dan sebaliknya, warga Trenggalek menyeberang ke Ponorogo.
Salah satu siswa, Risky Kurniawan, mengaku terpaksa melintasi sungai menggunakan kereta gantung karena ini satu-satunya jalur untuk sekolahnya.
Ia terbiasa sejak kecil menempuh sekolah di Trenggalek karena lebih dekat.
“Setiap hari lewat sini. Kalau pas banjir besar, takut banget,” kata Risky kepada wartawan, Sabtu (14/2/2026).
Pengguna lain, Febia Elen, warga Trenggalek, juga mengandalkan kereta gantung ini untuk akses tercepat ke Ponorogo. Sebelumnya, ia menggunakan jembatan Jabak sebelum rusak.
“Ini jalur paling dekat kalau mau kerja ke Ponorogo,” ujarnya.
Suyanto, pengelola jembatan, menjelaskan pembangunan kereta gantung darurat menghabiskan biaya sekitar Rp 10 juta hasil patungan warga agar jembatan bisa digunakan kembali secepatnya.
“Warga membangun jembatan layang (kereta gantung) secara darurat. Biayanya dari patungan antarwarga,” jelasnya.
Menurutnya, jembatan Jabak merupakan satu-satunya akses bagi warga untuk pendidikan, ekonomi, dan layanan kesehatan. Hampir 700 warga Dusun Purworejo menggunakan kereta gantung sederhana tersebut setiap hari.
“Kalau harus melewati Pacitan kan terlalu jauh, jadi ini menjadi penghubung antarkabupaten, antara Ponorogo dan Trenggalek,” tuturnya.
Jembatan Jabak sebelumnya memiliki panjang 70 meter, namun diterjang banjir hingga dua pondasi beton jembatan roboh dan 25 meter sisi jembatan hilang.
Untuk mengatasinya, warga membuat kereta gantung darurat sepanjang 40 meter.
Kereta gantung digerakkan secara manual oleh warga, yang juga berjaga secara bergantian untuk menariknya. Warga tidak memungut tarif, namun penggunaan bersifat sukarela.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




