ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Haru, Peziarah Nyekar di Pemakaman Covid-19 Surabaya Jelang Ramadan

Senin, 16 Februari 2026 | 22:43 WIB
MA
SL
Penulis: Muhammad Nanda Andrianta | Editor: LES
Menjelang Ramadan 2026, peziarah memadati TPU Keputih Surabaya untuk tradisi nyekar.
Menjelang Ramadan 2026, peziarah memadati TPU Keputih Surabaya untuk tradisi nyekar. (Beritasatu.com/Nanda Andrianta)

Surabaya, Beritasatu.com –  Menjelang bulan suci Ramadan 2026, tradisi nyekar atau ziarah ke makam keluarga kembali semarak dilakukan masyarakat. Di tempat pemakaman umum (TPU) Keputih Surabaya, ribuan peziarah mulai memadati area makam dalam tiga hari terakhir, Senin (16/2/2026) petang.

TPU Keputih memiliki nilai historis tersendiri bagi warga Kota Pahlawan. Area ini merupakan saksi bisu masa pandemi, di mana terdapat blok khusus yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi sekitar 4.200 korban Covid-19.

Suasana di blok khusus ini tampak mencolok dengan deretan nisan yang memiliki tanggal wafat saling berdekatan. Meski penuh dengan kenangan memilukan, para peziarah tetap khusyuk melantunkan doa. Tak jarang, isak tangis pecah di tengah aroma bunga kamboja dan hamparan rumput hijau.

ADVERTISEMENT

Salah satu peziarah, Yogi, rutin mengunjungi makam sang ayah setiap tahunnya sebelum Ramadan tiba. Ia datang bersama sanak saudara untuk mendoakan almarhum yang dimakamkan dengan prosedur khusus beberapa tahun silam.

"Sebenarnya ayah saya meninggal bukan karena Covid-19, tapi karena saat itu meninggalnya di situasi pandemi, sehingga wajib dimakamkan dengan protokol kesehatan ketat," ujar Yogi mengenang masa sulit tersebut.

Tradisi nyekar ini juga diikuti oleh tokoh nasional asal Jawa Timur, Soekarwo. Mantan Gubernur Jatim sekaligus mantan anggota Wantimpres era Jokowi ini hadir untuk berziarah ke makam ibu mertuanya yang wafat akibat Covid-19 pada tahun 2021.

Bagi pria yang akrab disapa Pakde Karwo ini, ziarah kubur bukan sekadar tradisi rutin, melainkan anjuran agama untuk refleksi diri.

"Ini tadi ada 4 keluarga yang kami ziarahi hari ini. Ibu mertua yang meninggal dikarenakan Covid-19, sementara 3 lainnya dimakamkan di TPU Keputih tapi di blok non-korban Covid-19," ungkap Soekarwo.

TPU Keputih bertransformasi secara signifikan sejak pandemi melanda. Sebagian besar lahan dialokasikan untuk pemakaman darurat yang kala itu harus digali menggunakan ekskavator demi mengejar kecepatan prosedur protokol kesehatan.

Hingga kini, TPU Keputih tetap menjadi lokasi utama bagi warga Surabaya untuk merefleksikan kebersamaan sekaligus mengingat perjuangan melewati masa krisis kesehatan dunia. Mobilitas peziarah di lokasi ini diprediksi akan terus meningkat hingga malam pertama salat tarawih Ramadan 1447 Hijriah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT