ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Review Film The Ministry of Ungentlemanly Warfare, Perpaduan Klasik Perang dan Komedi

Kamis, 9 Mei 2024 | 08:00 WIB
TR
R
Penulis: Thomas Rizal | Editor: RZL
The Ministry of Ungentlemanly Warfare (2024).
The Ministry of Ungentlemanly Warfare (2024). (Lionsgate)

Jakarta, Beritasatu.com - The Ministry of Ungentlemanly Warfare (2024) yang segera tayang di bioskop Indonesia menjadi perpaduan klasik antara film perang dan komedi yang menghibur. Film garapan sutradara Guy Ritchie ini memperlihatkan sisi lain Perang Dunia II dengan sentuhan aksi dan humor yang pas.

Beritasatu.com mendapat kesempatan mengikuti screening perdana The Ministry of Ungentlemanly Warfare, Rabu (9/5/2024). Meskipun terkesan sebagai film perang klasik yang mempertontonkan hegemoni pasukan sekutu, khususnya Inggris, film berdurasi 120 menit ini masih menghibur penonton dan tak membosankan.

Berdasarkan kisah nyata tentang Operasi Postmaster, operasi rahasia yang dilakukan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill untuk menggagalkan rencana Nazi, The Ministry of Ungentlemanly Warfare menceritakan kelompok pasukan khusus yang dipimpin oleh Gus March-Phillips (diperankan oleh Henry Cavill), dalam upayanya menyabotase kapal u-boat Jerman.

ADVERTISEMENT

Gus memimpin tim yang terdiri dari Henry Hayes (Hero Fiennes Tiffin), Freddy Alvarez (Henry Golding), Anders Lassen (Alan Ritchson), dan Geoffrey Appleyard (Alex Pettyfer). Gus dan timnya memiliki motivasi masing-masing untuk menumpas Nazi, dibantu oleh Mr Heron (Babs Olusanmokun) dan Marjorie Stewart (Eiza Gonzalez) untuk menenggelamkan u-boat Jerman, guna mengamankan jalur distribusi logistik dan jalur masuk pasukan sekutu.

The Ministry of Ungentlemanly Warfare (2024). - (Lionsgate/-)
The Ministry of Ungentlemanly Warfare (2024). - (Lionsgate/-)

Salah satu kelebihan utama dari film ini adalah kemampuan Guy Ritchie untuk menciptakan suasana yang menyenangkan tanpa mengesampingkan elemen dramatis dari kisahnya. Meskipun The Ministry of Ungentlemanly Warfare tidak sepenuhnya mengikuti sejarah secara akurat, tetapi hal ini tidak mengurangi daya tariknya sebagai sebuah film bertemakan Perang Dunia II.

Layaknya film-film Ritchie pada umumnya, The Ministry of Ungentlemanly Warfare menyuguhkan adegan-adegan aksi yang mendebarkan. Adegan pertempuran diatur dengan apik didukung oleh visual CGI yang mendukung estetika dari film. Meski kali ini Ritchie tidak menggunakan teknik slow motion detail layaknya Sherlock Holmes, penonton berhasil dibuat terhibur dengan adegan tembak menembak dalam film.

Alur cerita yang lurus, dengan bumbu humor yang pas, membuat penonton dapat mengikuti ritme film dengan baik. Dari sisi seni peran, masing-masing pemeran berhasil menghasilkan kharismanya tersendiri. Misalnya, Cavill sebagai sosok pemimpin yang percaya diri, lalu Ritchson yang membawakan pejuang tangguh ala Rambo dengan panah dan belatinya.

Kehadiran Gonzalez dengan penampilan sensualnya, meskipun terkesan stereotip, juga menjadi daya tarik dalam film. Sosok karakter pendukung, seperti Winston Churchill (Rory Kinnear) hingga Ian Fleming (Freddie Fox) juga membuat penonton ingin mengetahui kisah sesungguhnya yang diadaptasi oleh film ini.

Secara keseluruhan, The Ministry of Ungentlemanly Warfare menjadi film yang mengasyikkan untuk dinikmati. Dengan aksi yang mendebarkan, serta pengarahan yang cerdas dari Guy Ritchie, film ini berhasil memberikan pengalaman sinematik yang menyenangkan bagi para penonton.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT