Kasus Campak Naik Lagi, Pakar UGM Ingatkan Pentingnya Imunisasi
Sabtu, 11 Oktober 2025 | 13:00 WIB
Yogyakarta, Beritasatu.com - Lonjakan kasus campak kembali menjadi perhatian publik setelah beberapa anak di Kabupaten Sumenep, Madura, dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit menular tersebut.
Berdasarkan data hingga Agustus 2025, terdapat 3.444 kasus positif campak di Indonesia dengan 46 kejadian luar biasa (KLB) yang tersebar di 14 provinsi.
Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus konsultan infeksi dan penyakit tropis RSUP Dr Sardjito, dr Ratni Indrawanti menjelaskan, campak dapat menyerang semua usia, tetapi gejalanya lebih berat pada anak-anak.
“Campak bisa menyerang semua usia, tetapi gejalanya lebih sering tampak berat pada anak-anak,” ujarnya, Jumat (10/10/2025).
Ratni menjelaskan, gejala khas campak diawali demam tinggi disertai batuk dan pilek, diikuti ruam kemerahan dari wajah hingga seluruh tubuh pada hari ketiga atau keempat. Salah satu tanda khasnya adalah bintik putih kecil di dalam mulut (koplik spot).
“Tidak semua demam dengan ruam berarti campak, diagnosis tetap harus ditegakkan dengan pemeriksaan,” tegasnya.
Ratni menambahkan, campak dapat menurunkan daya tahan tubuh dan menyebabkan komplikasi berat, seperti radang paru (pneumonia) dan radang otak (ensefalitis) yang berpotensi fatal. “Komplikasi inilah yang bisa berujung pada kematian,” katanya.
Untuk mencegah penularan, Ratni menegaskan pentingnya imunisasi campak atau MR (measles-rubella). Vaksin ini terbukti menurunkan risiko gejala berat serta membantu membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).
“Biasanya penyakit yang ada imunisasinya itu penyakit berbahaya. Kalau ada yang tidak divaksin, mereka bisa menularkan ke yang lain,” ujarnya.
Ratni juga memperingatkan risiko tinggi bagi ibu hamil dan janin, terutama jika terinfeksi pada trimester pertama. Kondisi tersebut dapat menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, atau bayi lahir dengan campak.
Terkait hal itu, perempuan disarankan menerima vaksin MMR setidaknya satu bulan sebelum merencanakan kehamilan. Selain imunisasi, masyarakat diimbau menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti memakai masker saat sakit, mencuci tangan dengan benar, serta menjaga asupan gizi seimbang.
“Campak menular lewat udara, mirip Covid-19. Trekait hal itu, pencegahannya juga mirip, yakni imunisasi, memakai masker, dan mencuci tangan,” jelas Ratni.
Jika kasus campak terdeteksi di sekolah, Ratni menyarankan langkah cepat, seperti pelacakan kontak, pemeriksaan gejala, dan memastikan seluruh siswa mendapatkan imunisasi lanjutan.
Anak yang terinfeksi perlu diistirahatkan di rumah hingga benar-benar sembuh, sedangkan pihak sekolah harus menjaga kebersihan lingkungan serta memberikan edukasi tentang pencegahan campak kepada siswa dan orang tua.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




