ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Apa Itu Kanker Kolorektal yang Renggut Nyawa Aktor James Van Der Beek

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:08 WIB
RA
RA
Penulis: Rizky Pradita Ananda | Editor: RP
James Van Der Beek.
James Van Der Beek. (AP Photo/Richard Shotwell/Invision/AP, File)

Jakarta, Beritasatu.com - Aktor James Van Der Beek, bintang drama remaja era 1990-an yang terkenal lewat serial drama populer Dawson's Creek, meninggal dunia pada Rabu (11/2/2026) waktu setempat dalam usia 48 tahun setelah sekitar dua tahun berjuang melawan kanker kolorektal yang ia idap.

Pada 2024, James Van Der Beek mengumumkan kepada publik dirinya didiagnosis kanker kolorektal setelah menjalani pemeriksaan kolonoskopi rutin pada 2023.

"Saya telah menangani ini secara diam-diam hingga sekarang, menjalani perawatan dan meningkatkan kesehatan saya secara keseluruhan dengan fokus yang lebih besar dari sebelumnya," tulis James di akun Instagram pribadinya. 

ADVERTISEMENT

Jenis Kanker Paling Umum di Indonesia

Sebagian besar kanker kolorektal dimulai dengan perkembangan pertumbuhan, yang disebut polip, pada lapisan dalam usus. Dikutip dari laman resmi Icon Cancer Center, Kamis (12/2/2026), ternyata kanker kolorektal adalah kanker paling umum kedua di kalangan pria di Indonesia, tercatat mencapai 11,6% dari semua kasus kanker. 

Sementara untuk wanita, kanker kolorektal menempati peringkat keempat sebagai kanker paling umum, yang memengaruhi 4,4% kasus kanker pada wanita di Indonesia.

Apa Itu Kanker Kolorektal

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) dalam laman resminya menyatakan kanker kolorektal adalah jenis kanker yang menyerang usus besar (kolon) atau rektum dan merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum di seluruh dunia. Kanker ini dapat menyebabkan kerusakan parah dan kematian.

Risiko kanker kolorektal meningkat seiring bertambahnya usia. Sebagian besar kasus menyerang orang yang berusia di atas 50 tahun. Risiko kanker kolorektal dapat dikurangi dengan mengonsumsi makanan sehat, tetap aktif secara fisik, tidak merokok, dan membatasi konsumsi alkohol. Selain itu, ditambah dengan pemeriksaan rutin yang sangat penting untuk deteksi dini.

Angka Kasus dan Kematian

WHO mencatat, kanker kolorektal  atau kanker usus besar merupakan penyebab kematian terkait kanker kedua terbesar di dunia. Pada 2020, diperkirakan terjadi lebih dari 1,9 juta kasus baru kanker kolorektal dan lebih dari 930.000 kematian akibat kanker kolorektal di seluruh dunia. 

Dari pengamatan angka kejadian dan angka kematian dari aspek geografis, angka kejadian tertinggi terjadi di Eropa, Australia, dan Selandia Baru, sedangkan angka kematian tertinggi terjadi di Eropa Timur. WHO memprediksi pada 2040, beban kanker kolorektal akan meningkat menjadi 3,2 juta kasus baru per tahun yang artinya meningkat 63% dan 1,6 juta kematian per tahun, naik 73%. 

Prevalensi kasus kanker di Indonesia. - (Antara Foto/Antara)
Prevalensi kasus kanker di Indonesia. - (Antara Foto/Antara)

Faktor Risiko

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker kolorektal meliputi:

  1. Usia: Risiko terkena kanker kolorektal meningkat seiring bertambahnya usia, dengan sebagian besar kasus terjadi pada orang berusia di atas 50 tahun.
  2. Riwayat keluarga: Riwayat keluarga kanker kolorektal atau kondisi genetik tertentu, seperti sindrom Lynch dan poliposis adenomatosa familial, dapat meningkatkan risiko. 
  3. Riwayat kesehatan pribadi: Orang yang pernah menderita kanker kolorektal sebelumnya atau memiliki jenis polip tertentu berisiko lebih tinggi mengidap kanker jenis ini. 
  4. Gaya hidup: Pilihan gaya hidup yang tidak sehat, seperti diet tinggi daging olahan dan rendah buah dan sayuran, malas bergerak alias tidak aktif, obesitas, merokok, dan mengonsumsi alkohol berlebihan semua ini dapat meningkatkan risiko.

Gejala

Kanker kolorektal seringkali tidak menunjukkan gejala pada stadium awal.  Itulah kenapa pemeriksaan rutin penting untuk mendeteksi penyakit ini sejak dini dan memulai pengobatan.

Gejala umum meliputi, ada perubahan nkebiasaan buang air besar seperti diare, sembelit, atau penyempitan feses, darah dalam feses (pendarahan rektal) dengan darah berwarna merah terang atau gelap. Kram perut, nyeri atau kembung yang bertahan lama, penurunan berat badan yang tiba-tiba tanpa alasan jelas.

Selain itu, merasa lelah terus-menerus dan kekurangan energi walau sudah cukup istirahat, anemia defisiensi besi karena pendarahan kronis sehingga wajah pucat dan tubuh terasa lemah.

Diagnosis

Proses diagnosis melibatkan beberapa metode, termasuk:

  • Pemeriksaan fisik.
  • Pencitraan: USG perut, CT scan, MRI.
  • Pemeriksaan bagian dalam usus besar dengan kolonoskopi atau sigmoidoskopi.
  • Biopsi jaringan untuk analisis histopatologi.
  • Tes molekuler untuk mengidentifikasi mutasi genetik atau biomarker sebagai panduan pengobatan.

Pengobatan dan Treatment

Pengobatan kanker kolorektal ditentukan berdasarkan jenis kanker, stadium, dan riwayat medis pasien. Deteksi dini meningkatkan kemungkinan hasil pengobatan yang baik. Beberapa metode pengobatan yang umumnya diterapkan untuk penyakit ini antara lain:  

  • Pembedahan: Sering dilakukan pada stadium awal jika tumor belum menyebar.
  • Kemoterapi dan radioterapi: Membantu mengecilkan tumor atau mengatasi kanker lanjut.
  • Terapi target dan imunoterapi: Digunakan untuk kasus tertentu sesuai karakteristik kanker.

Pencegahan Kanker Kolorektal

Pencegahan kanker kolorektal dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup dan pemeriksaan rutin:

  • Mengonsumsi makanan sehat, kaya buah dan sayuran.
  • Menjaga aktivitas fisik.
  • Tidak merokok.
  • Membatasi konsumsi alkohol.
  • Menghindari faktor risiko lingkungan.

Orang dengan riwayat keluarga kanker kolorektal atau kondisi genetik tertentu disarankan melakukan konseling atau pemeriksaan genetik dan skrining yang tepat.

Skrining Berbasis Feses

Tes berbasis feses, seperti fecal occult blood test (FOBT), adalah metode skrining non-invasif untuk mendeteksi darah tersembunyi dalam feses yang bisa menjadi tanda kanker kolorektal atau polip prakanker. Tes ini relatif mudah dilakukan, efektif, dan membantu deteksi dini untuk mencegah perkembangan kanker. Jika hasil tes menunjukkan adanya darah atau abnormalitas, biasanya kolonoskopi dianjurkan untuk konfirmasi.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Steven Spielberg Ulurkan Bantuan Keluarga Mendiang James Van Der Beek

Steven Spielberg Ulurkan Bantuan Keluarga Mendiang James Van Der Beek

LIFESTYLE
Profil James Van Der Beek, Aktor Dawson's Creek yang Tutup Usia

Profil James Van Der Beek, Aktor Dawson's Creek yang Tutup Usia

LIFESTYLE
James Van Der Beek Aktor Serial ‘Dawson's Creek’ Meninggal Dunia

James Van Der Beek Aktor Serial ‘Dawson's Creek’ Meninggal Dunia

LIFESTYLE

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT