Kemenkes Curhat Beban Biaya Penyakit Jantung Tembus Rp 17 Triliun
Sabtu, 14 Februari 2026 | 14:49 WIB
Tangerang, Beritasatu.com – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan besarnya beban anggaran negara untuk penanganan penyakit jantung, strok, diabetes hingga gagal ginjal yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Hal itu disampaikan Benjamin saat hadir di peresmian layanan kardiovaskular di RSUD Kota Tangerang, Sabtu (14/2/2026). Ia menyebutkan, pada 2019 anggaran untuk pasien cuci darah akibat komplikasi diabetes mencapai Rp 2,3 triliun. Namun pada 2025, angkanya melonjak menjadi lebih dari Rp 13 triliun. Sementara pembiayaan untuk penyakit jantung kini telah menembus Rp 17 triliun.
“Bayangkan berapa uang negara yang habis hanya untuk mengobati. Kalau cuci darah dan serangan jantung terus naik, anggaran tidak akan cukup,” ujar Benjamin.
Benjamin menekankan, upaya penanganan kuratif penyakit kardiovaskular, termasuk dengan tersedianya fasilitas cath lab di rumah sakit, menjadi langkah penting dalam memperkuat layanan terapi jantung dan strok. Dengan alat tersebut, penyumbatan pembuluh darah jantung maupun otak (cerebrovaskular) dapat dideteksi dan ditangani lebih cepat.
“Banyak kasus strok, serangan jantung, sampai cuci darah terjadi karena diabetes dan hipertensi tidak diobati dengan baik. Akibatnya komplikasi berat dan biayanya sangat besar,” imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, ia mengapresiasi kesiapan sumber daya manusia dan fasilitas di RSUD Kota Tangerang.
“Untuk terapi dan pengobatan di sini sudah sangat baik. Alatnya lengkap dan standar seperti di rumah sakit rujukan besar. Ini kebanggaan kita. Kota Tangerang sudah punya fasilitas lengkap, dan untuk pasien BPJS Kesehatan 100% tidak bayar. Ini sangat menolong rakyat,” lanjut Benjamin.
Ia mengingatkan, seluruh upaya kuratif tetap harus dibarengi dengan langkah preventif, salah satunya dengan menghadirkan posko kesehatan Merah Putih untuk pemeriksaan gula darah dan tekanan darah gratis di ruang publik seperti pasar.
“Orang sedang belanja bisa mampir lima menit cek gula darah gratis. Kalau terdeteksi hipertensi atau diabetes, bisa langsung diarahkan berobat, supaya angka kasus cuci darah, strok, dan serangan jantung bisa turun,” tandasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




