5 Penyakit yang Ditularkan Tikus Selain Hantavirus
Rabu, 13 Mei 2026 | 11:10 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kasus hantavirus yang belakangan ramai dibahas membuat banyak orang mulai lebih waspada terhadap bahaya penyakit yang dibawa tikus.
Hewan pengerat tersebut ternyata bukan hanya mengganggu kebersihan rumah, tetapi juga dapat menjadi sumber penularan berbagai infeksi serius yang berisiko bagi kesehatan manusia.
Berbagai sumber kesehatan menyebutkan bahwa penyakit akibat tikus dapat menyebar melalui urine, kotoran, air liur, gigitan, hingga makanan yang sudah terkontaminasi. Bahkan, beberapa penyakit dapat berkembang menjadi komplikasi serius apabila tidak segera ditangani dengan tepat.
Penularannya pun bisa terjadi melalui banyak cara, mulai dari urine, kotoran, air liur, gigitan, hingga makanan yang telah terkontaminasi. Lalu, apa saja penyakit tersebut?
Penyakit yang Ditularkan Tikus
Dihimpun dari berbagai sumber, berikut lima penyakit yang ditularkan dari tikus:
1. Leptospirosis
Leptospirosis merupakan salah satu infeksi bakteri yang paling sering dikaitkan dengan tikus. Penyakit ini biasanya menular ketika seseorang terpapar urine tikus atau air yang telah terkontaminasi bakteri leptospira.
Bakteri tersebut diketahui mampu bertahan di lingkungan lembab dan genangan air. Oleh sebab itu, risiko penularan leptospirosis umumnya meningkat saat musim hujan maupun banjir. Tidak mengherankan jika penyakit ini lebih sering ditemukan di wilayah dengan sanitasi yang kurang baik.
Gejala leptospirosis dapat berupa demam, nyeri otot, sakit kepala, hingga kulit dan mata yang tampak menguning. Pada beberapa kasus, infeksi bahkan dapat berkembang menjadi gangguan ginjal maupun hati apabila tidak segera mendapatkan penanganan.
Karena itu, masyarakat yang sering beraktivitas di area banjir atau lingkungan dengan populasi tikus tinggi disarankan menggunakan alas kaki dan menjaga kebersihan tubuh setelah beraktivitas.
2. Salmonelosis
Selain leptospirosis, tikus juga dapat membawa bakteri salmonela yang berbahaya bagi sistem pencernaan manusia. Penyebaran bakteri ini umumnya terjadi melalui makanan atau permukaan yang telah terkontaminasi.
Risiko penularan dapat meningkat apabila makanan dibiarkan terbuka di area yang sering dilewati tikus. Oleh karena itu, menjaga kebersihan serta memastikan makanan tersimpan dalam kondisi tertutup menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kontaminasi.
Gejala salmonelosis biasanya meliputi diare, muntah, demam, hingga keram perut yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam beberapa kondisi, keluhan tersebut bahkan dapat berlangsung selama beberapa hari.
Membersihkan area dapur secara rutin dan tidak membiarkan sisa makanan terbuka terlalu lama menjadi langkah sederhana yang efektif untuk membantu mencegah penyakit akibat tikus.
3. Pes atau plague
Pes atau plague merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Penularannya umumnya terjadi melalui gigitan kutu yang sebelumnya mengisap darah tikus atau hewan pengerat yang sudah terinfeksi.
Salah satu jenis pes yang paling dikenal adalah bubonic plague atau pes bubonik. Penyakit ini dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening, demam tinggi, serta gejala mirip flu yang berkembang cukup cepat.
Walaupun saat ini kasusnya tergolong jarang, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut rata-rata masih terdapat sekitar tujuh kasus pes setiap tahun di Amerika Serikat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyakit ini tetap tidak boleh dianggap sepele.
Jika tidak segera ditangani, pes dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam nyawa. Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan tikus maupun kutu menjadi langkah penting untuk pencegahan.
4. Rat-bite fever
Rat-bite fever atau demam akibat gigitan tikus merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari air liur tikus. Penularannya biasanya terjadi setelah seseorang tergigit atau tercakar tikus yang telah terinfeksi.
Meski terlihat sederhana, kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit serius apabila tidak segera mendapatkan penanganan medis. Oleh sebab itu, luka akibat gigitan tikus sebaiknya segera dibersihkan dan diperiksakan ke tenaga kesehatan.
Gejala rat-bite fever umumnya berupa demam, muntah, nyeri otot, hingga muncul ruam pada tubuh. Dalam kondisi tertentu, komplikasi penyakit ini bahkan dapat memengaruhi jantung, otak, dan paru-paru.
Pemeriksaan lebih awal sangat penting dilakukan setelah tergigit tikus agar risiko komplikasi serius dapat dicegah sedini mungkin.
5. Lymphocytic choriomeningitis virus
Lymphocytic choriomeningitis virus (LCMV) merupakan infeksi virus yang dapat menular melalui paparan urine, kotoran, maupun air liur tikus. Banyak orang tidak menyadari infeksi ini karena gejalanya sering tampak ringan pada tahap awal.
Sebagian penderita hanya mengalami gejala menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, dan tubuh terasa lemas. Namun, dalam beberapa kasus, infeksi dapat berkembang menjadi meningitis atau peradangan otak yang cukup serius.
Ibu hamil juga perlu lebih berhati-hati terhadap LCMV karena infeksi ini dapat meningkatkan risiko gangguan pada janin. Oleh karena itu, menjaga kebersihan rumah dan menghindari kontak dengan tikus menjadi langkah penting untuk mencegah penularan.
Keberadaan tikus sering kali dianggap sebagai masalah kecil di lingkungan rumah maupun permukiman. Padahal, hewan pengerat ini dapat membawa berbagai penyakit berbahaya yang berdampak serius bagi kesehatan tubuh.
Selain hantavirus, berbagai penyakit lain seperti leptospirosis, salmonelosis, pes, rat-bite fever, hingga LCMV juga perlu diwaspadai karena dapat menular melalui berbagai cara.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online




