Alasan Ilmiah Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan pada 18 Februari 2026
Minggu, 15 Februari 2026 | 23:03 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Keputusan ini tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2 Tahun 2025 yang merujuk pada hasil hisab hakiki wujudul hilal dan kriteria terbaru.
Pakar Astronomi Islam UIN Syarif Hidayatullah sekaligus Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Maskufa, menjelaskan bahwa penetapan ini menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
"Muhammadiyah akan memulai tarawihnya di malam Rabu, karena 1 Ramadan sudah masuk di tanggal 18 Februari 2026. Seperti itu hasil hisab Muhammadiyah," ungkap Maskufa dalam wawancara bersama Beritasatu, Minggu (15/2/2026).
Prinsip KHGT memandang seluruh dunia sebagai satu kesatuan hari dan tanggal (one day, one date globally). Berdasarkan metode ini, ijtimak (konjungsi) jelang Ramadan 1447 H diprediksi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 atau 29 Sya'ban 1447 H.
Maskufa memaparkan, meski saat Matahari terbenam di hari ijtimak kriteria tinggi Bulan ≥ 5° dan elongasi ≥ 8° belum terpenuhi di sebagian besar wilayah, terdapat koreksi parameter global. Kriteria tersebut terpenuhi di daratan Alaska, Amerika Serikat, setelah pukul 24.00 UTC namun sebelum fajar di Selandia Baru.
"Ada wilayah di daratan Alaska yang memenuhi kriteria Muhammadiyah, yaitu tinggi hilal 5 dan jarak Matahari-Bulan sekitar 8. Itulah yang dijadikan rujukan. Seluruh dunia dianggap sebagai satu tanggal," terangnya.
Maskufa mengakui adanya potensi perbedaan tanggal dengan pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU). Jika Muhammadiyah menggunakan hisab yang memberikan kepastian jauh hari, pemerintah menggunakan metode rukyat (pengamatan langsung).
“Penggunaan hisab ini bisa memprediksi jauh-jauh hari ke depan. Kita bisa menentukan 10 tahun ke depan kapan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah,” jelas Maskufa.
Sebaliknya, metode rukyat baru bisa dilakukan pada 29 Sya'ban atau 17 Februari 2026. Maskufa memprediksi posisi hilal di Indonesia pada tanggal tersebut masih berada di bawah ufuk (minus).
“Maka diprediksikan Sya'bannya tidak 29 hari, akan istikmal atau digenapkan 30 hari. Sehingga 1 Ramadan (versi pemerintah) bukan hari Rabu, tapi Kamis tanggal 19 Februari,” ucapnya.
Menghormati Perbedaan Ijtihad
Meskipun ada potensi perbedaan, Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk saling menghormati hasil keputusan pemerintah. Maskufa menekankan bahwa keberagaman ini adalah bagian dari ijtihad dalam menggali pemahaman keagamaan.
“Sebagai akademisi, itu bagian dari ijtihad. Kalaupun ada perbedaan, saling menghormati dan menghargai karena itu bagian dari memahami,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




