Mengapa 1 Ramadan 1447 H Jatuh Kamis? Ini Penjelasannya Menurut Menag
Selasa, 17 Februari 2026 | 20:32 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Keputusan Sidang Isbat penetapan 1 Ramadan 1447 H oleh Kementerian Agama tahun ini didasarkan pada data astronomis yang sangat kuat. Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa secara teknis, hilal di seluruh wilayah Indonesia bahkan belum "lahir" di atas cakrawala saat matahari terbenam.
Data hisab menunjukkan posisi hilal berada pada titik yang sangat rendah, bahkan menyentuh angka minus 2 derajat di beberapa titik pengamatan.
Dalam pemaparan Sidang Isbat, Menag menjelaskan bahwa posisi hilal di seluruh kepulauan Indonesia berkisar antara minus 2 derajat 64 menit hingga 0 derajat 48 menit. Kondisi ini secara sains disebut sebagai ghairu wujudul hilal atau hilal yang belum berwujud.
"Data hilal pada posisi hisab di seluruh Indonesia menunjukkan ketinggian yang masih sangat rendah. Secara hisab, hilal belum berwujud di atas ufuk," tegas Menag Nasaruddin Umar.
Sesuai kriteria MABIMS yang digunakan Indonesia, hilal baru dianggap memenuhi syarat visibilitas (kemungkinan bisa terlihat) jika berada pada ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat. Selain ketinggian yang negatif, sudut elongasi (jarak sudut antara bulan dan matahari) juga terpantau sangat minim, yakni hanya di kisaran 0 derajat 56 menit hingga 1 derajat 53 menit.
"Data ini menunjukkan bahwa jarak bulan masih terlalu dekat dengan matahari, sehingga mustahil untuk bisa terlihat oleh mata manusia maupun alat optik di 96 titik pengamatan kita," tambah Menag.
Karena posisi hilal yang tidak memenuhi kriteria tersebut, maka bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari (istikmal). Dengan demikian, 1 Ramadan 1447 H ditetapkan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Sebagai informasi, hilal 29 Sya'ban 1447 H yang bertepatan dengan Selasa Kliwon, 17 Februari 2026 M masih di bawah ufuk.
Tinggi hilal terbesar terjadi di Kota Sabang, Provinsi Aceh dengan tinggi hilal mar'ie -1 derajat 41 menit. Sementara ketinggian hilal terkecil terjadi di Jayapura, Provinsi Papua dengan tinggi hilal mar'ie -3 derajat 12 menit.
Adapun di titik Jakarta dengan markas Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat (koordinat 6° 11' 25" LS 106° 50' 50" BT), tinggi hilal adalah -1 derajat 44 menit 39 detik dengan letak matahari terbenam pada 12 derajat 03 menit 24 detik selatan titik barat.
Sementara ijtimak (konjungsi) terjadi pada Selasa Kliwon, 17 Februari 2026 M pukul 19.02.02 WIB. Penghitungan atas data ini dilakukan dengan metode falak (hisab) tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis data perhitungan hilal 1 Ramadhan 1447 H dalam Informasi Prakiraan Hilal Saat Matahari Terbenam Tanggal 17 dan 18 Februari 2026 M (Penentuan Awal Bulan Ramadhan 1447 H). Dalam informasi itu, dijelaskan bahwa konjungsi akan terjadi pada hari Selasa, 17 Februari 2026 M, pukul 12.01.07 UT atau Selasa, 17 Februari 2026 M, pukul 19.01.07 WIB atau Selasa, 17 Februari 2026 M, pukul 20.01.07 Wita atau Selasa, 17 Februari 2026 M, pukul 21.01.07 WIT, yaitu saat nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama 328,83 derajat.
Di wilayah Indonesia pada tanggal 17 Februari 2026, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.56.44 WIT di Jayapura, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.51.25 WIB di Banda Aceh, Aceh. Sementara pada tanggal 18 Februari 2026, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.56.35 WIT di Jayapura, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.51.29 WIB di Banda Aceh, Aceh.
Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi setelah Matahari terbenam tanggal 17 Februari 2026 di seluruh wilayah Indonesia. Adapun ketinggian hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026 berkisar antara -2,41 derajat di Jayapura, Papua sampai dengan -0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat. Ketinggian hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026 berkisar antara 7,62 derajat di Merauke, Papua sampai dengan 10,03 derajat di Sabang, Aceh.
Sementara itu, besaran elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026 berkisar antara 0,94 derajat di Banda Aceh, Aceh sampai dengan 1,89 derajat di Jayapura, Papua. Sementara elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026 berkisar antara 10,7 derajat di Jayapura, Papua sampai dengan 12,21 derajat di Banda Aceh, Aceh.
Data BMKG juga menunjukkan umur Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026 berkisar antara -3,07 jam di Jayapura, Papua sampai dengan -0,16 jam di Banda Aceh, Aceh. Umur Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026 berkisar antara 20,92 jam di Jayapura, Papua sampai dengan 23,84 jam di Banda Aceh, Aceh.
Adapun lama hilal di atas ufuk saat Matahari terbenam pada 17 Februari 2026 berkisar antara -8,27 menit di Jayapura, Papua sampai dengan -3,11 menit di Tua Pejat, Sumatra Barat. Sementara lama hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 18 Februari 2026 berkisar antara 34,99 menit di Merauke, Papua sampai dengan 45,17 menit di Sabang, Aceh.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




