ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Marak Kasus Bunuh Diri pada Anak di Indonesia, Ini Kata Psikolog

Senin, 16 Februari 2026 | 17:04 WIB
HH
HH
Penulis: Harumbi Prastya Hidayahningrum | Editor: HP
Ilustrasi bunuh diri
Ilustrasi bunuh diri (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Kasus bunuh diri pada anak di Indonesia belakangan menjadi perhatian serius. Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Farraas A Muhdiar, menyebut penyebab bunuh diri pada anak bersifat multifaktorial atau dipengaruhi banyak faktor.

Menurut Farraas, fenomena ini tidak bisa disederhanakan hanya karena satu atau dua penyebab. Perlu penelaahan menyeluruh terhadap kondisi anak, baik di lingkungan rumah maupun sekolah, termasuk aspek kesehatan mental.

"Perlu dilihat lebih lanjut apakah ini mungkin disebabkan oleh masalah-masalah yang dia alami di sekolah atau di rumah, atau misalnya juga dipengaruhi oleh kondisi kesehatan mental. Intinya ini sesuatu yang miris karena seharusnya usia anak-anak dan remaja seharusnya usia yang masih bersenang-senang, banyak eksplorasi, dan banyak main. Bukan seharusnya usia-usia yang dia harus memikirkan masalah, apalagi masalah ekonomi," ujarnya kepada Beritasatu.com, Senin (16/2/2026).

ADVERTISEMENT

Farraas menjelaskan, sejumlah faktor risiko bunuh diri pada anak dan remaja, antara lain gejala depresi yang tidak terdeteksi, perasaan tidak berharga, merasa sendirian, hingga merasa menjadi beban keluarga.

Selain itu, kontrol diri pada usia anak-anak dan remaja masih dalam tahap perkembangan sehingga lebih rentan mengambil keputusan impulsif tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

"Ditambah faktor-faktor sosialnya, misalnya mungkin ada masalah di keluarga, mungkin ada riwayat trauma kekerasan yang tidak diketahui, mungkin ada bullying, mungkin merasa tidak berdaya dengan kemiskinannya. Jadi, ini sesuatu yang sifat lebih besar dari anak atau keluarga, yang sifatnya struktural, begitu," jelasnya.

Ia juga mengungkapkan beberapa tanda atau ciri-ciri anak yang memiliki kecenderungan untuk mengakhiri hidup. Perubahan perilaku menjadi salah satu indikator yang perlu diwaspadai.

"Misalnya, anaknya tadinya ceria terus tiba-tiba jadi menutup diri atau menolak sekolah, jadi lebih banyak menangis. Itu beberapa tanda yang muncul atau lebih sering mimpi buruk, jadi tidak mau bersosialiasi, tidak ada mood untuk beraktivitas, anaknya jadi di kamar terus. Namun, tidak selalu terlihat. Ada kalanya juga anak pintar banget menutupinya, apalagi untuk anak-anak yang tertutup, yang tidak punya tempat aman bercerita, terutama jika orang tuanya tidak terlalu dekat hubungannya. Jadi, tidak ada yang bisa memprediksi atau tidak ada yang aware dengan perilaku tersebut," tuturnya.

Karena itu, orang tua dan guru perlu lebih peka terhadap perubahan emosi maupun perilaku anak, sekecil apa pun.

Farraas menegaskan, pencegahan bunuh diri pada anak harus dilakukan secara multilayer, mulai dari level keluarga, sekolah, hingga pemerintah.

Di tingkat keluarga, komunikasi yang terbuka dan aman menjadi kunci. Anak harus merasa nyaman untuk bercerita tanpa takut dihakimi atau dianggap sebagai beban.

Sementara di lingkungan sekolah, guru diharapkan peka terhadap potensi bullying dan perubahan perilaku siswa. Sekolah juga didorong membangun komunikasi aktif dengan orang tua apabila terjadi perubahan signifikan pada anak.

Untuk kasus yang berkaitan dengan tekanan ekonomi, sekolah diharapkan memiliki kebijakan yang tidak memberatkan, seperti subsidi silang atau akses bantuan pendidikan.

Di tingkat struktural, pemerintah berperan dalam memastikan akses pendidikan yang setara serta menyediakan layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau.

"Jangan sampai ada anak-anak yang merasa terpojokan karena tidak mampu membiayai itu semua. Dan pastinya menyediakan akses layanan kesehatan mental dan keluarga. Namun, jika berbicara struktural, pasti berkaitan dengan ekonomi, bagaimana caranya orang tuanya juga memiliki penghasilan yang baik, ekonomi yang stabil. Jadi, ini luas banget, faktornya sangat besar, butuh kerja sama dari semua pihak," tegasnya.

Fenomena bunuh diri pada anak menjadi pengingat bahwa isu kesehatan mental anak dan remaja harus ditangani secara komprehensif, kolaboratif, dan berkelanjutan oleh seluruh elemen masyarakat.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT