Haedar Nashir Ajak Umat Islam Dewasa Sikapi Perbedaan Awal Ramadan
Selasa, 17 Februari 2026 | 12:49 WIB
Yogyakarta, Beritasatu.com – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam menjadikan Ramadan 1447 Hijriah sebagai momentum memperkuat ketakwaan sekaligus mempererat kohesi sosial. Ia menekankan pentingnya sikap dewasa dalam menyikapi potensi perbedaan penetapan awal puasa Ramadan yang kerap terjadi.
Menurut Haedar, perbedaan awal Ramadan merupakan hal yang lazim selama umat Islam belum memiliki satu kalender tunggal. Karena itu, ia meminta umat menyikapinya secara cerdas dan penuh toleransi.
“Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri,” kata Haedar, Selasa (17/2/2026).
Ia menegaskan, esensi puasa bukan pada perdebatan teknis, melainkan pada peningkatan takwa, baik secara pribadi maupun kolektif. Umat Islam diminta fokus pada substansi ibadah dengan menjalankan perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya, serta menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Haedar berharap, peningkatan ketakwaan selama Ramadan juga berdampak pada membaiknya relasi sosial dan semangat menebar kebaikan bagi sesama serta lingkungan. Ia mengingatkan agar berbagai dinamika, termasuk perbedaan awal Ramadan, tidak mengganggu tujuan utama ibadah.
“Dalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan menjadikan kita umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas,” pesan Haedar.
Haedar menambahkan, puasa Ramadan harus menjadi sarana memperbaiki akhlak pribadi dan publik. Ibadah ini diharapkan membentuk karakter umat agar mampu menjadi umat terbaik dan berdaya saing dalam membangun peradaban.
Ia juga mengingatkan pentingnya kerja keras, terutama dalam bidang ekonomi. Menurutnya, puasa melatih hidup efisien, sederhana, dan hemat sebagai fondasi kemajuan.
“Meraih kualitas hidup umat Islam terutama di bidang ekonomi sungguh memerlukan kesungguhan. Puasa justru melatih kita untuk hidup efisien, prihatin, hidup untuk bisa hemat, dan lain sebagainya. Dan itu menjadi pangkal kita maju di bidang ekonomi,” tuturnya.
Dalam konteks sosial, Haedar menyebut puasa sebagai “kanopi sosial” yang melindungi umat dari konflik dan perpecahan, termasuk di era media sosial yang kerap memicu emosi. Ia menegaskan, puncak takwa adalah perbaikan martabat hidup secara menyeluruh.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




