Lima Penyebab Kegagalan Spanyol
Kamis, 19 Juni 2014 | 05:15 WIB
Rio de Janeiro - Spanyol adalah juara dunia kelima yang tersingkir di babak pertama Piala Dunia, setelah takluk 0-2 dari Cile di Maracana, Brasil, Rabu (18/6) waktu setempat atau Kamis dinihari WIB.
Berikut ini adalah lima faktor yang mungkin menjadi penyebab akhir buruk juara dunia dan juara Eropa itu.
Bertahan dengan wajah lama
Setelah kalah 1-5 dari Belanda, pelatih Vicente del Bosque dipaksa untuk mengambil tindakan drastis dan memilih mengistirahatkan Xavi Hernandez dan Gerard Pique, diganti dengan Pedro Rodriguez dan Javi Martinez. Namun, penyegaran di skuat Spanyol ini seharusnya dilakukan sejak awal. Pemain seperti gelandang Atletico Madrid Koke memiliki energi dan semangat tinggi, sayangnya dia terlambat dimainkan.
Dan keputusan untuk tetap memasang Iker Casillas merupakan sebuah kesalahan. Dia memang kapten di tim hebat, namun itu dulu. Belakangan dia jarang dimainkan oleh Real Madrid dan Del Bosque sebetulnya punya banyak pilihan untuk posisi di bawah mistar gawang, bahkan meskipun Victor Valdes absen karena cedera.
Lubang di Pertahanan
Kalau Casillas dituding sebagai biang keladi kekalahan, dia mungkin bisa berkilah dengan mengatakan para bek di depannya juga pantas dikritik. Betapa pun juga, keberhasilan Spanyol di Piala Dunia 2010 dan Euro 2012 ditentukan oleh pertahanan yang rapi.
Namun inspirasi yang biasa dimunculkan Carles Puyol telah hilang. Pique dan Sergio Ramos dulu berduet sebagai center-back, namun tidak sekarang ini, dan Javi Martinez juga gagal menjadi solusi ketika melayani serbuan Cile.
Ketika melawan Belanda dan Cile, Spanyol menghadapi tim yang memakai formasi tidak biasa dan mereka ternyata kesulitan mengatasi itu serta kebobolan tujuh gol hanya di dua laga.
Memasang Diego Costa
Begitu Del Bosque berhasil membujuk Diego Costa untuk membela Spanyol dan bukan negara kelahirannya Brasil, mau tak mau dia harus memasang bintang Atletico Madrid itu di starting line-up.
Namun Spanyol tak banyak membantu penyerang tengah itu beradaptasi dengan gaya permainan tim. Dia butuh ruang untuk bisa beraksi namun ketika menghadapi Cile dia sering bekerja sendirian menghadapi tiga bek lawan.
Dia juga nampak gagap membawa bola mudah, dan para penonton Brasil yang tak menyukai kepindahannya ke Spanyol sering berteriak mengejek dia ketika bermain di Salvador dan Rio de Janeiro.
Tidak beradaptasi
Secara umum, Spanyol salah karena terlalu bertahan pada sistem yang dulu efektif. Pola permainan La Roja dibangun berdasarkan pola permainan Barcelona yang begitu sukses di era Pep Guardiola.
Namun Barcelona belakangan ini juga terpuruk dan cara Guardiola menangani Bayern Munich gagal total di tangan Real Madrid pada semifinal Liga Champions, yang seharusnya dimaknai sebagai tanda berakhirnya era tiki-taka.
Kecepatan dan tekanan para pemain Cile memporak-porandakan Spanyol, sehingga para pemainnya sering salah umpan dan gagal menguasai bola, yang ironisnya dulu menjadi inti permainan Spanyol.
Bermain di Amerika Latin
Negara Eropa selalu kesulitan untuk bisa juara dunia di benua Amerika, dan sampai hari ini memang belum pernah terjadi. Awal dari kemunduran Spanyol terjadi di Maracana satu tahun lalu, ketika mereka kalah 0-3 dari Brasil di final Piala Konfederasi, dan kemunduran itu terus berlanjut.
Dalam Piala Dunia sekarang ini, setiap negara Amerika Selatan mendapat dukungan lebih banyak dari penonton. Setelah kalah 1-5 dari Belanda, Spanyol harus menang melawan Cile, namun sebagian besar penonton di Maracana berpihak ke tim Jorge Sampaoli sehingga Cile seperti bermain di kandang sendiri.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




