Pembayaran Digital Meluas, Pelobi Tunai Melawan
Senin, 13 November 2017 | 16:05 WIB
Istilahnya adalah "perang melawan uang tunai." Perusahaan kartu kredit, perusahaan rintisan teknologi (tech startups), dan bahkan sejumlah negara mendorong para konsumen untuk tidak lagi membawa segepok uang di dompet mereka, namun menggantinya dengan kartu plastik atau membawa smartphone guna melakukan pembayaran.
Transaksi digital lebih aman, lebih murah, dan lebih nyaman, itu pendapat mereka.
Namun kelompok industri uang tunai tidak setuju, dan sekarang melawan balik.
Sebuah kelompok yang terdiri atas perusahaan mata rantai pasokan untuk produksi uang kertas dan uang logam seluruh dunia berkumpul tahun lalu dan membentuk Asosiasi Mata Uang Internasional (ICA/International Currency Association).
Para anggotanya termasuk perusahaan-perusahaan pembuat kertas, tinta, dan hologram yang dipakai untuk mencetak uang, juga perusahaan-perusahaan pembuat mesin tunai dan mesin penghancur uang tunai yang ditarik.
Misi ICA, seperti tercantum di situsnya, adalah "menyampaikan suara keras dan kompak untuk mempertahankan mata uang sebagai pilihan pembayaran yang disukai."
Crane Currency, pemasok utama kertas untuk mata uang Amerika Serikat, ikut bergabung bersama lebih dari dua lusin perusahaan di seluruh dunia.
"Sebetulnya ini tidak ada dalam DNA bisnis kami sehari-hari untuk memasuki jalur ini. Kami menjadi kurang bertanggung jawab kalau tidak ambil bagian di ICA," kata Tod Niedeck, direktur marketing Crane Currency, seperti dikutip CNN Money.
Uang Tunai Tetap Disukai
Sesungguhnya produksi uang tunai tidak dalam masalah. Meskipun pembayaran digital meningkat, nilai uang tunai yang dipegang masyarakat justru meningkat sebagai persentase produk domestik bruto AS dan Eropa sejak 1980an, dan naik makin pesat pada dekade terakhir.
Menurut survei oleh bank central AS (Federal Reserve) pada 2015, rata-rata warga Amerika memegang uang tunai US$ 59 setiap harinya, naik dari US$ 54 tiga tahun sebelumnya.
Atas dasar ini, direktur jenderal ICA Guillaume Lepecq mengatakan pihaknya beroperasi di posisi yang kuat, sifatnya hanya mewaspadai kompetisi yang ada.
"Ada kelompok industri dari orang-orang yang ingin merebut pangsa pasar uang tunai, karena mereka bisa mendapatkan bisnis yang menguntungkan darinya," kata Lepecq.
Sejumlah perusahaan seperti Visa dan MasterCard, misalnya, melakukan operasi kehumasan besar-besaran untuk menggambarkan mata uang sebagai masa lalu dan pembayaran digital sebagai masa depan.
Kenapa tunai masih jadi raja?
Alasan bertahannya mata uang sebagai alat pembayaran paling disukai masih sulit dipahami bahkan oleh mereka yang meneliti industri ini.
"Kalau konsumen menggunakan cara pembayaran alternatif, kenapa permintaan uang tunai masih meningkat?" kata Eugenie Foster, direktur eksekutif Asosiasi Urusan Mata Uang Internasional yang beranggotakan bank-bank sentral dan produsen uang.
Foster berteori bahwa gerakan otomatisasi perbankan mendorong permintaan terhadap uang tunai, karena bank-bank menyediakan lebih banyak ATM dan mesin setoran tunai untuk bisnis dan perorangan, sehingga lebih banyak uang tunai yang tersedia di lebih banyak lokasi.
Yang lain mengatakan bahwa masyarakat lebih suka menyimpan uang tunai setelah terjadinya resesi besar karena mereka tidak percaya lagi pada sistem perbankan dan keamanan deposito elektronik.
Sebagai tambahan, bunga rendah kurang menjadi insentif untuk menaruh dana di bank. Para turis secara khusus cenderung membawa tunai untuk menghindari beban fee kartu kredit saat bepergian ke luar negeri.
Ekonomi Bawah Tanah
Salah satu alasan tentang popularitas uang tunai mungkin tidak terlalu menyenangkan didengar. Uang kertas lebih disukai dalam transaksi ekonomi bawah tanah (underground economy), istilah untuk dunia kejahatan.
Tahun lalu ekonom Harvard Kenneth Rogoff meluncurkan buku yang menjelaskan bahwa pecahan US$ 100 banyak dipakai untuk menghindari pajak, pencucian uang, dan suap.
"Permintaan (tunai) dalam ekonomi yang legal sedang menurun, namun para pemerintah terus mencetak yang tunai," kata Rogoff.
Sejumlah pemerintah rupanya mencermati hal itu. Swedia melarang mata uang tunai untuk pembayaran transportasi publik sejak bertahun-tahun silam.
Tahun lalu, India secara mendadak membatalkan rencana penerbitan uang kertas dengan nominal tertinggi sebagai upaya memerangi korupsi.
Spanyol dan Prancis telah menerapkan batasan transaksi tunai sebesar 1.000 euro dengan dalih melawan terorisme.
ICA sangat keberatan dengan tindakan-tindakan ini, karena menurut mereka pembayaran digital juga sama peluangnya untuk dipakai dalam transaksi kejahatan.
"Bukti-bukti menunjukkan bahwa para teroris juga memakai kartu prabayar anonim untuk memindahkan uang," kata Lepecq.
"Jadi kami berpendapat bahwa argumen itu keliru sama sekali. Kami tidak senang dengan adanya pembatasan-pembatasan seperti itu."
Melalui sebuah situs baru cashmatters.org, ICA juga menekankan perlunya pemerintah menjaga peredaran uang tunai. Ketika listrik mati, uang tunai sangat dibutuhkan seperti terjadi di Puerto Rico. Di samping itu, sekitar 7% warga Amerika yang tidak punya rekening bank sangat bergantung pada uang tunai.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Isu Politik-Hukum: Identitas Tersangka Penyiram Air Keras Andrie Yunus




