TKN: Pengumuman Kabinet Bayangan Hanya untuk Dongkrak Elektabilitas Prabowo

Sabtu, 16 Februari 2019 | 14:20 WIB
MS
AD
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: ALD
Hasto Kristiyanto
Hasto Kristiyanto (beritasatu.com/markus sihaloho)

Jakarta, Beritasatu.com - Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-KH Ma'ruf Amin menanggapi enteng rencana pengumuman kabinet bayangan oleh pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. TKN justru merasa aneh lantaran tingkat elektabilitas pasangan penantang itu relatif rendah dan stagnan, berdasarkan survei mayoritas lembaga.

Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf, Hasto Kristiyanto menilai, rencana mengumumkan kabinet bayangan adalah upaya untuk mendongkrak elektabilitas. Sebab, mayoritas lembaga survei yang kredibel menempatkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf di atas Prabowo-Sandi

Hasto Kristiyanto memprediksi, nama-nama yang masuk kabinet bayangan berkisar para loyalis Prabowo, seperti Fadli Zon. Hal itu lantaran tidak mudah mencari tokoh ideal untuk diajak masuk dalam kabinet Prabowo-Sandi. Apalagi, rencana pengumuman kabinet bayangan dilakukan dalam situasi tertekan, sehingga momentumnya tidak tepat.

"Tokoh yang mau dipasang masuk dalam kabinet bayangan pasti mikir-mikir. Selain peluangnya tipis, mereka juga menyadari bahwa namanya hanya dipakai sebagai alat pendongkrak popularitas Prabowo, dan itu belum tentu berhasil," kata Hasto Kristiyanto, Sabtu (16/2).

Hasto Kristiyanto pun berharap kubu Prabowo-Sandi untuk segera mengumumkan nama-nama kabinet bayangannya. Namun, dia yakin nama-nama yang muncul tak akan memenuhi syarat kompetensi.

"Silakan Pak Prabowo umumkan saja dalam minggu-minggu ini. Pasti nama-nama yang masuk tidak terlepas dari loyalis mereka. Sementara nama-nama yang memiliki kompetensi tinggi akan berpikir 1.000 kali sebelum menyatakan bersedia namanya dimasukkan. Sebab umumkan calon kabinet saat elektabilitas Prabowo turun dipastikan tidak mendongkrak suara," tambah Hasto Kristiyanto.

Menurut Hasto Kristiyanto, gagasan membuat kabinet bayangan adalah tindakan prematur, tidak memahami skala prioritas. Mengutip peribahasa Jawa, Hasto menyebut langkah itu nggege mongso, atau tergesa-gesa mengambil langkah yang belum tentu terjadi.

Kondisi berbeda dengan Jokowi, lanjut Hasto Kristiyanto, yang melakukan scanning dan profiling tokoh-tokoh terbaik bangsa yang nantinya akan menjalankan tugas sebagai pembantu presiden. "Scanning dan profiling itu jauh lebih penting, bersifat tertutup, teliti, dan sesuai skala prioritas kebutuhan. Semua direkam dengan baik, dan masih banyak waktu. Sekarang memenangkan pilpres dulu dan membangun koalisi yang kuat dan efektif, agar pemerintahan Pak Jokowi-KH Ma'ruf Amin ke depan jauh lebih kuat karena dukungan rakyat dan dukungan parkemen di atas 67%," ungkapnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon