Terobosan Baru
Pembedahan Tanpa Alat Untuk Stroke dan Koroner di Siloam
Sabtu, 1 Desember 2012 | 16:37 WIB
Hanya butuh waktu setengah jam untuk operasi pasien stroke.
Untuk pertama kalinya, Siloam Hospital di Lippo Village, Tangerang, melakukan pembedahan tanpa alat operasi untuk penyumbatan pembuluh darah di bagian leher.
"Ini baru pertama dilakukan di Indonesia. Kalau penyumbatannya lebih dari 50 persen dianjurkan dengan cara ini, mencegah pasien kembali mengalami stroke," ungkap dr. Sunanto, SpJP, FIHA, kepada Beritasatu.com hari ini.
Pagi tadi, untuk pertama kalinya telah dilakukan Carotid Intervention untuk kasus penyumbatan pembuluh darah di leher dilakukan oleh dr. Paul Hsien - Li Kao dari Taiwan dan dr. Antonia AL, SpJP dari Siloam Hospital.
Sunanto menjelaskan, pasien terserang stroke akibat tersumbatnya pembuluh darah leher yang berasal dari jantung lari ke otak sehingga terjadi stroke.
"Kasus pertama tadi karena sumbatan di leher, di karotis yaitu nama pembuluh darah di leher, cuma setengah jam selesai," ujar Sunanto.
Sedangkan pada kasus kedua dilakukan intervensi pembedahan tanpa alat operasi untuk penyakit jantung koroner oleh Dr. Paul dan Dr. Doni Firman SpJP dari RS Jantung Harapan Kita.
Sunanto menjelaskan, waktu yang dibutuhkan untuk proses katerisasi kedua penyakit tersebut berbeda-beda.
"Sekitar 1 jam untuk penyakit yang berat, tapi kalau sederhana setengah jam selesai," ungkap Sunanto.
Menurutnya, proses intervensi lebih lama karena terdapat sumbatan total, tergantung ketebalan sumbatannya dan harus dicari celah untuk menembusnya.
"Keberhasilan katerisasi ini tergantung keahlian operator (dokter). Dicek lebih dulu kondisi pembuluh darahnya seperti apa. Kalau kita yakin bisa, bisa sampai 90 persen berhasil," katanya.
Penyumbatan pembuluh darah terjadi, kata Sunanto, karena keadaan lembab di dalam tubuh dan karena itulah dilakukan pembedahan dengan teknologi ini. Penyumbatan tersebut bisa terjadi kembali jika kolesterol tinggi.
"Satu dari seribu kasus, itu yang gagal. Sebelumnya kita lihat kondisinya dulu baru bisa memutuskan," ungkapnya.
Tindakan operasi ini beriringan dengan acara seminar dan pelaksanaan langsung katerisasi pembedahan intervensi bertemakan 'Updates on Carotid & Supra-aortic Disease' di Siloam.
Teknologi tersebut memungkinkan pembedahan tanpa menggunakan alat operasi atau konvensional untuk penyakit yang sulit paling sulit dilakukan saat operasi.
Untuk pertama kalinya, Siloam Hospital di Lippo Village, Tangerang, melakukan pembedahan tanpa alat operasi untuk penyumbatan pembuluh darah di bagian leher.
"Ini baru pertama dilakukan di Indonesia. Kalau penyumbatannya lebih dari 50 persen dianjurkan dengan cara ini, mencegah pasien kembali mengalami stroke," ungkap dr. Sunanto, SpJP, FIHA, kepada Beritasatu.com hari ini.
Pagi tadi, untuk pertama kalinya telah dilakukan Carotid Intervention untuk kasus penyumbatan pembuluh darah di leher dilakukan oleh dr. Paul Hsien - Li Kao dari Taiwan dan dr. Antonia AL, SpJP dari Siloam Hospital.
Sunanto menjelaskan, pasien terserang stroke akibat tersumbatnya pembuluh darah leher yang berasal dari jantung lari ke otak sehingga terjadi stroke.
"Kasus pertama tadi karena sumbatan di leher, di karotis yaitu nama pembuluh darah di leher, cuma setengah jam selesai," ujar Sunanto.
Sedangkan pada kasus kedua dilakukan intervensi pembedahan tanpa alat operasi untuk penyakit jantung koroner oleh Dr. Paul dan Dr. Doni Firman SpJP dari RS Jantung Harapan Kita.
Sunanto menjelaskan, waktu yang dibutuhkan untuk proses katerisasi kedua penyakit tersebut berbeda-beda.
"Sekitar 1 jam untuk penyakit yang berat, tapi kalau sederhana setengah jam selesai," ungkap Sunanto.
Menurutnya, proses intervensi lebih lama karena terdapat sumbatan total, tergantung ketebalan sumbatannya dan harus dicari celah untuk menembusnya.
"Keberhasilan katerisasi ini tergantung keahlian operator (dokter). Dicek lebih dulu kondisi pembuluh darahnya seperti apa. Kalau kita yakin bisa, bisa sampai 90 persen berhasil," katanya.
Penyumbatan pembuluh darah terjadi, kata Sunanto, karena keadaan lembab di dalam tubuh dan karena itulah dilakukan pembedahan dengan teknologi ini. Penyumbatan tersebut bisa terjadi kembali jika kolesterol tinggi.
"Satu dari seribu kasus, itu yang gagal. Sebelumnya kita lihat kondisinya dulu baru bisa memutuskan," ungkapnya.
Tindakan operasi ini beriringan dengan acara seminar dan pelaksanaan langsung katerisasi pembedahan intervensi bertemakan 'Updates on Carotid & Supra-aortic Disease' di Siloam.
Teknologi tersebut memungkinkan pembedahan tanpa menggunakan alat operasi atau konvensional untuk penyakit yang sulit paling sulit dilakukan saat operasi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




