ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Nestapa Kakak Beradik di Polman Terbelenggu Lumpuh di Rumah Pinjaman

Jumat, 13 Februari 2026 | 19:10 WIB
MA
IC
Penulis: Muhammad Asyharuddin Arbab | Editor: CAH
Sumiati merawat anaknya yang lumpuh di rumah kecilnya.
Sumiati merawat anaknya yang lumpuh di rumah kecilnya. (Beritasatu.com/M Asyharuddin Arbab)

Polewali, Beritasatu.com – Di sebuah gubuk kayu berukuran 3×4 meter di Desa Lagi-Agi, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Nurmadina (8) dan adiknya, Muhammad Fadlan (5). 

Di saat anak-anak seusia mereka tengah asyik bermain, kakak beradik ini hanya bisa terduduk diam, terbelenggu oleh kelumpuhan yang merenggut masa kecil mereka.

Kelumpuhan total merenggut kemampuannya untuk bangkit sejak tiga tahun lalu. Sementara sang adik, Fadlan, mulai menunjukkan gejala serupa setahun terakhir. Meski masih bisa duduk, Fadlan tak lagi mampu berdiri tegak seperti balita pada umumnya.

ADVERTISEMENT

Sumiati (29), sang ibu, mengenang masa-masa normal Nurmadina yang sempat mengenyam pendidikan di PAUD. Segalanya berubah secara drastis dalam satu hari yang memilukan.

"Waktu itu dia pulang sekolah, tiba-tiba sudah tidak bisa berjalan. Dokter bilang ini penyakit langka atau keturunan, tetapi di keluarga kami tidak ada yang pernah mengalami hal seperti ini," kenang Sumiati dengan mata berkaca-kaca.

Pihak rumah sakit setempat telah menyarankan agar keduanya dirujuk ke Makassar untuk fasilitas medis yang lebih lengkap. Namun bagi keluarga ini, perjalanan ke Makassar terasa seperti mimpi yang terlampau mahal.

Dinding kayu rumah yang hanya terdiri dari satu ruangan itu menjadi saksi bisu kemiskinan yang mencekik. Tidak ada perabotan mewah, hanya kompor dan lembaran karpet yang digelar di lantai untuk segala aktivitas.

Keluarga ini bahkan tidak memiliki rumah sendiri. Mereka menumpang di rumah milik majikan tempat sang ayah berkerja, setelah rumah mereka sebelumnya terpaksa dijual untuk melunasi utang.

Sahabuddin bekerja sebagai buruh pembuat bata merah dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup.

"Penghasilannya tidak menentu, sehari sekitar Rp 60.000. Kadang sebulan sampai sejuta, tetapi lebih sering di bawah itu," tutur Sumiati.

Dua anak mereka terpaksa putus sekolah demi membantu sang ayah memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bukannya tanpa perhatian, bantuan sebenarnya mulai berdatangan. Istri bupati Polman hingga Istri almarhum wakil Gubernur Sulbar sempat berkunjung. Pemerintah daerah dan pihak Puskesmas pun telah menawarkan rujukan pengobatan ke luar daerah.

Namun, tawaran itu menyisakan dilema besar bagi Sahabuddin dan Sumiati. Meski biaya medis mungkin ditanggung pemerintah, biaya operasional selama di Makassar menjadi tembok besar yang tak mampu mereka lompati.

"Pemerintah siap bantu untuk pengobatannya, tetapi kami terkendala di 'uang makan' dan biaya keseharian di sana. Pemerintah tidak menanggung itu. Kami tidak punya uang simpanan sama sekali untuk hidup di kota orang," ungkap Sumiati lirih.

Hingga saat ini, keluarga tersebut hanya bisa mengandalkan bantuan sembako dan popok dari para relawan. Sementara itu, kesembuhan Nurmadina dan Fadlan masih menjadi tanda tanya besar yang menggantung di bawah atap rumah kayu pinjaman tersebut.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT