ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Gunung Agung Bisa Berfungsi sebagai "Kompres" untuk Bumi yang Demam

Minggu, 4 Februari 2018 | 19:17 WIB
FB
FB
Penulis: Faisal Maliki Baskoro | Editor: FMB
Gunung Agung erupsi.
Gunung Agung erupsi. (BNPB)

Di masa lampau, kejadian alam seperti erupsi gunung berapi mempunyai dampak menurunkan temperatur Bumi, setidaknya untuk sementara. Saat ini, para ilmuwan tengah mengawasi aktivitas gunung berapi untuk mempelajari dampaknya terhadap pemanasan global.

Pada tahun 1815, Gunung Tambora di Indonesia menciptakan musim dingin vulkanik. Setahun lewat tanpa adanya musim panas. Dampak erupsi gunung berapi terbesar dalam sejarah tersebut terasa hingga New York. Pada tahun 1991, erupsi Gunung Pinatubo di Filipina terasa di seluruh penjuru dunia dan menyebabkan rata-rata temperatur dunia turun 1 derajat fahrenheit di tahun 1992.

Erupsi vulkanik kini menjadi obyek penelitian ilmuwan yang mencoba memahami bagaimana gunung berapi bisa membantu mendinginkan Bumi. Salah satu yang menjadi perhatian saat ini adalah Gunung Agung di Bali yang menunjukkan aktivitas vulkanik sejak November. Ilmuwan memperkirakan jika terjadi letusan besar, maka temperatur dunia bisa turun.

Cara lain untuk mendinginkan Bumi adalah melalui Geoengineering. Secara sederhana, Geoengineering bisa didefinisikan sebagai usaha untuk mengurangi atau mencegah dampak dari perubahan iklim denga merubah sistem alamiah bagian-bagian tertentu Planet Bumi. Salah satu contoh adalah menyuntikkan partikel sulfat ke amosfer untuk meniru efek erupsi.

ADVERTISEMENT

Apakah cara ini ampuh?

Mungkin saja. Namun, masalahnya adalah risiko. Teknik ini bisa mengganggu sistem alami dan bahkan berpotensi menciptakan bencana alam baru. NASA saat ini masih fokus mempelajari dampak erupsi vulkanik. Teknik ini masih dilihat sebagai solusi sementara.

PBB juga masih melarang teknik geoengineering. PBB menyatakan teknik ini perlu dipelajari lebih lanjut untuk memahami potensi risikonya sebelum diimplementasi.

Bagi ilmuwan, mengumpulkan data dari gunung berapi masih menjadi fokus utama. Meskipun data itu tidak dapat diimplementasikan ke geoengineering, tetapi masih tetap berguna.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT