Ekspor Mobil Tiongkok April Naik 34 Persen, Terbanyak Mobil Penumpang
Senin, 13 Mei 2024 | 06:39 WIB
Beijing, Beritasatu.com- Tiongkok berhasil mengekspor 504.000 mobil pada April 2024, mencatat pertumbuhan signifikan 34% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Dikutip dari Xinhua, Senin (13/5/2024), menurut data yang dirilis Asosiasi Manufaktur Mobil China (China Association of Automobile Manufacturers/CAAM), mobil penumpang menjadi kontributor terbesar dalam ekspor tersebut dengan 429.000 unit atau naik 1,2% dari bulan sebelumnya. “Angka ini juga melonjak 35,9% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya,” kata CAAM.
Sementara itu, ekspor kendaraan niaga menunjukkan sedikit penurunan 4,2% dari bulan sebelumnya. Namun, berhasil mencatat peningkatan yang mengesankan sebesar 24% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, dengan 74.000 unit yang berhasil diekspor.
Prestasi ekspor selama 4 bulan pertama 2024 juga memperlihatkan kinerja impresif. Dengan total 1,827 juta unit yang berhasil diekspor, industri otomotif Tiongkok mencatat peningkatan 33,4% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Mobil penumpang tetap menjadi yang terdepan dengan 1,539 juta unit yang diekspor, naik 34,8% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, kendaraan niaga juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan tersebut, dengan 288.000 unit yang berhasil diekspor, meningkat 26,5% dibandingkan tahun sebelumnya.
Tiongkok mengekspor 4,91 juta kendaraan pada 2023 dan diproyeksikan akan tetap menjadi pemimpin dalam ekspor mobil di dunia. Pada tahun lalu, ekspor mobil dari negara ini tumbuh 57,9% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan ekspor kendaraan energi baru (new energy vehicle/NEV) melonjak sebesar 77,6% menjadi 1,2 juta unit.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




