ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Gaikindo: Pajak Avanza di RI Rp 5 Juta, di Malaysia Cuma Rp 500.000

Jumat, 1 Agustus 2025 | 16:35 WIB
WT
WT
Penulis: Wahyu Sahala Tua | Editor: WS
Toyota Avanza merupakan produk ekspor dari Indonesia yang juga dipasarkan di Malaysia.
Toyota Avanza merupakan produk ekspor dari Indonesia yang juga dipasarkan di Malaysia. (Beritasatu.com/Wahyu Sahala Tua)

Jakarta, Beritasatu.com - Harga mobil yang makin mahal di Indonesia membuat penjualan kendaraan domestik lesu sepanjang semester I/2025. Salah satu penyebab utamanya adalah beban pajak yang dinilai terlalu tinggi, bahkan jauh lebih mahal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia.

Sekretaris Umum Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) Kukuh Kumara menyoroti ketimpangan itu saat berbicara di pameran otomotif GIIAS 2025, ICE BSD City, Kamis (31/7/2025). Ia mencontohkan produk populer Toyota Avanza yang diproduksi di Indonesia, namun memiliki pajak tahunan jauh lebih tinggi bila digunakan di dalam negeri.

“Kita bandingkan (contohnya) mobil Toyota Avanza, itu dibuat di Indonesia. Dijual di Indonesia, juga diekspor ke negara lain termasuk di Malaysia. Di Indonesia, bayar pajak tahunannya Rp5 juta, sementara di Malaysia, dengan produk yang sama (Avanza) pajak tahunan (cuma) Rp500 ribu,” ujar Kukuh.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, pajak yang terlalu tinggi membuat mobil menjadi barang mahal yang tidak lagi mudah diakses oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Ia menambahkan bahwa konsumen sebenarnya melihat harga mobil di pabrik masih relatif terjangkau, namun melambung tinggi saat sampai ke tangan pembeli karena berbagai instrumen pajak.

“Kalau dibedah lagi, katakan ambil mobil yang harganya Rp100 juta, keluar dari pabrik ke dealer, kalau beli bayarnya Rp 150  juta, bukan Rp 100 juta. Artinya Rp 50 jutanya adalah pajak,” paparnya.

Kukuh menjelaskan bahwa ketimpangan daya beli semakin terlihat. Pendapatan kelas menengah naik sekitar 3 persen per tahun, tapi harga mobil yang menjadi incaran utama justru naik 7,5 persen per tahun. Gap ini dinilai semakin melebar dan bisa menekan pasar otomotif nasional.

Dengan penjualan tahun 2024 hanya mencapai 865 ribu unit, Kukuh memperkirakan angka tahun ini akan lebih rendah. Ia mengingatkan, bila tren pelemahan penjualan terus dibiarkan, dampaknya bisa menjalar hingga ke rantai pasok otomotif.

“Kalau makin lama makin turun,mungkin pabrik mobilnya masih bertahan, tetapi bagaimana dengan supplier? Ada tier 1, tier 2, tier 3,” tuturnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT