Tim SAR Deteksi Titik Api Diduga Lokasi Jatuhnya Pesawat IAT di Maros
Sabtu, 17 Januari 2026 | 18:23 WIB
Maros, Beritasatu.com – Tim SAR gabungan mendeteksi adanya titik api di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang diduga kuat sebagai lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport (IAT). Pesawat itu hilang kontak dalam penerbangan Yogyakarta-Makassar, Sabtu (17/1/2026) siang.
Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko mengatakan titik api tersebut terpantau oleh tim heli Caracal TNI AD dan diperkuat oleh laporan masyarakat sekitar yang mendengar suara ledakan serta merekam adanya nyala api dari kejauhan.
“Dari pemantauan udara, terdeteksi adanya api. Ini juga sesuai dengan laporan masyarakat yang melihat titik api dan mendengar suara ledakan,” ujar Bangun kepada wartawan.
Meski demikian, Bangun menegaskan pihaknya masih melakukan verifikasi untuk memastikan apakah titik api tersebut merupakan lokasi pasti jatuhnya pesawat. Proses pemantauan terkendala cuaca buruk dengan pergerakan awan tebal yang menghalangi jarak pandang.
“Ini sedang dipastikan. Kecurigaan kita mengarah ke situ karena di tengah hutan lebat terlihat titik api yang cukup besar. Namun kami menunggu konfirmasi langsung dari tim darat dan heli,” katanya.
Selain pemantauan udara, pencarian juga dilakukan tim SAR gabungan dari Kodam XIV/Hasanuddin, Kostrad, Paskhas, dan Lanud Hasanuddin, serta didukung Basarnas dan masyarakat setempat. Total kekuatan yang disiagakan mencapai beberapa satuan setingkat kompi (SSK).
“Dari Kodam kami siapkan lima SSK lengkap dengan tim kesehatan, komunikasi, dan topografi. Dari Kostrad ada lima SSK, dari Lanud sekitar 60 personel, Paskhas 25 hingga 30 personel,” jelas Bangun.
Untuk mendukung evakuasi, ambulans telah disiagakan di lokasi pencarian. Mengingat medan pencarian berada di kawasan pegunungan karst dengan hutan lebat dan jalur terjal, peralatan khusus serta drone juga disiapkan untuk mempercepat pencarian.
Turut juga dikerahkan tim komunikasi dengan perangkat satelit guna mengatasi keterbatasan sinyal di lokasi.
“Komunikasi di lapangan sangat sulit, sehingga kami menggunakan alat komunikasi satelit agar pengendalian operasi tetap berjalan optimal,” ujarnya.
Hingga saat ini, belum ada laporan resmi terkait penemuan puing-puing pesawat. Informasi yang diterima baru sebatas pengamatan visual dari warga dan Babinsa dari jarak jauh.
“Kami berharap dalam waktu dekat, setelah heli Caracal mendarat dan tim darat mencapai lokasi, kepastian bisa segera kami sampaikan,” tutup Bangun.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




