Lapangan Pulau Seribu CNOOC Kembali Berproduksi
Rabu, 9 November 2011 | 13:41 WIB
Hambatan sejumlah lapangan migas mengurangi produksi minyak nasional sekitar 10.000 barel per hari.
China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) kembali mengoperasikan lapangan minyak di Kepulauan Seribu Setelah sebelumnya terhenti akibat terbakarnya kapal pembawa minyak mentah Lentera Bangsa.
"Kini sudah mulai berproduksi meski belum maksimal," kata Deputi Operasi, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Rudi Rubiandini di Jakarta, hari ini.
Menurut dia, saat ini CNOOC baru mampu memproduksi sebesar 10.000 barel minyak per hari. Sementara dalam kondisi normal, perseroan bisa memproduksi hingga 16.000 barel per hari. "Dibutuhkan berbulan-bulan untuk mengembalikan produksi kembali normal," kata Rudi.
Lamanya waktu penyesuaian tersebut disebabkan kerusakan anjungan belum bisa diperbaiki sepenuhnya. Hal ini diperburuk dengan terbakarnya generator penyedia listrik pada September lalu. "Itu soalnya dibutuhkan tender. Jadi butuh waktu yang lama," ujar dia.
Dia menjelaskan, terhentinya produksi lapangan minyak mengakibatkan produksi minyak nasional berkurang. Selain CNOOC, ujar Rudi, berkurangnya produksi minyak tahun ini juga dipengaruhi perbaikan di Pertamina Hulu Energi lapangan Offshore North West Java, lapangan Mahakam yang dikelola Total E&P Indonesia di Kalimantan Timur dan di lapangan Maleo di Jawa Timur.
Rudi mengatakan, perbaikan tersebut berpotensi mengurangi produksi sekitar 10.000 barel per hari.
Dia memperkirakan, produksi hingga akhir tahun ini hanya mencapai sekitar 900.000-905.000 barel per hari, jauh dibawah perkiraan awal yaitu 915.000 barel per hari. Sementara, target yang ditentukan pemerintah adalah 945.000 barel per hari.
China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) kembali mengoperasikan lapangan minyak di Kepulauan Seribu Setelah sebelumnya terhenti akibat terbakarnya kapal pembawa minyak mentah Lentera Bangsa.
"Kini sudah mulai berproduksi meski belum maksimal," kata Deputi Operasi, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Rudi Rubiandini di Jakarta, hari ini.
Menurut dia, saat ini CNOOC baru mampu memproduksi sebesar 10.000 barel minyak per hari. Sementara dalam kondisi normal, perseroan bisa memproduksi hingga 16.000 barel per hari. "Dibutuhkan berbulan-bulan untuk mengembalikan produksi kembali normal," kata Rudi.
Lamanya waktu penyesuaian tersebut disebabkan kerusakan anjungan belum bisa diperbaiki sepenuhnya. Hal ini diperburuk dengan terbakarnya generator penyedia listrik pada September lalu. "Itu soalnya dibutuhkan tender. Jadi butuh waktu yang lama," ujar dia.
Dia menjelaskan, terhentinya produksi lapangan minyak mengakibatkan produksi minyak nasional berkurang. Selain CNOOC, ujar Rudi, berkurangnya produksi minyak tahun ini juga dipengaruhi perbaikan di Pertamina Hulu Energi lapangan Offshore North West Java, lapangan Mahakam yang dikelola Total E&P Indonesia di Kalimantan Timur dan di lapangan Maleo di Jawa Timur.
Rudi mengatakan, perbaikan tersebut berpotensi mengurangi produksi sekitar 10.000 barel per hari.
Dia memperkirakan, produksi hingga akhir tahun ini hanya mencapai sekitar 900.000-905.000 barel per hari, jauh dibawah perkiraan awal yaitu 915.000 barel per hari. Sementara, target yang ditentukan pemerintah adalah 945.000 barel per hari.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
HUKUM & HANKAM
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
SUMATERA SELATAN
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




