ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bank Sumitomo Mitsui Indonesia Salurkan Kredit US$ 122 Juta untuk PKG

Selasa, 23 Desember 2014 | 20:04 WIB
AA
FB
Penulis: Amrozi Amenan | Editor: FMB
Ilustrasi petani tengah menebar pupuk di sawah
Ilustrasi petani tengah menebar pupuk di sawah (Antara/Basri Marzuki)

Jakarta - PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (BSMI) menyalurkan kredit kepada PT Petrokimia Gresik (PKG) sebesar US$ 122 juta atau Rp 1,5 triliun untuk mendanai pembangunan Proyek Amoniak Urea II. Penandatanganan perjanjian kredit antara PKG dan BSMI itu dilakukan di Jakarta, Selasa (23/12).

Dirut PT Petrokimia Gresik Hidayat Nyakman mengatakan Proyek Amoniak Urea II rencananya akan dimulai pembangunannya awal 2015 dan ditarget selesai akhir 2017. Proyek tersebut membutuhkan total dana sebesar US$ 661 juta. Dari total kebutuhan dana tersebut, 70 persen diharapkan berasal dari pinjaman perbankan dan 30 persen berasal dari dana internal PKG.

"Karena itu, selain dengan Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, ada beberapa perbankan nasional yang akan memberi dukungan dana bagi proyek Amoniak Urea II ini dan sekarang masih dalam proses negosiasi," kata Hidayat.

Kesepakatan dengan perbankan terkait pedanaan proyek Amoniak Urea II merupakan tindak lanjut dari proses persiapan proyek tersebut. Yakni, kesepakatan antara PKG bersama konsorsium Wuhan Engineering dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk yang telah menandatangani kontrak pembangunan pabrik Amoniak Urea II beberapa hari lalu.

ADVERTISEMENT

Menurut Hidayat, proyek Amoniak Urea II merupakan salah satu proyek strategis bagi PKG karena pabrik baru ini akan mengurangi ketergantungan impor PKG terhadap bahan baku produksi pupuk, yakni amoniak. Saat ini, PKG setidaknya membutuhkan amoniak sebesar 850.000 ton per tahun. Amoniak merupakan bahan baku untuk memproduksi pupuk bersubsidi jenis urea, NPK, dan ZA. Sementara itu, pabrik amoniak yang dimiliki PKG sekarang ini hanya mampu memproduksi amoniak sebanyak 445.000 ton per tahun. Sehingga PKG harus mengimpor amoniak sekitar 400.000 ton per tahun.

Begitu pula dengan pabrik pupuk urea, kapasitas produksi yang ada sekarang hanya sebesar 460.000 ton per tahun, sementara kebutuhan pupuk Urea di Jawa Timur saja mencapai sekitar 1.000.000 ton per tahun. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan impor sebesar 540.000 ton/tahun.

"Dengan demikian, keberadaan pabrik Amoniak Urea II tersebut selain akan menghemat devisa negara karena akan mengurangi ketergantungan impor, juga ke depan akan memperkuat struktur bisnis perusahaan serta keberlanjutan perusahaan juga terpenuhi dengan terpenuhinya kebutuhan bahan baku pupuk," tandas Hidayat.

Sekretaris Perusahaan, Wahyudi menambahkan selain menghemat biaya impor, pabrik baru ini juga akan menghemat biaya transportasi. "Estimasi biaya transportasi impor amoniak dan pupuk urea masing-masing sekitar Rp 160 miliar per tahun dan Rp 170 miliar per tahun, atau bila ditotal semuanya bisa mencapai Rp 330 miliar per tahun," ujarnya.

Pabrik baru inipun diyakini akan mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. "Sedangkan upaya penghematan menjadi penting agar PKG memiliki sumber daya lebih dalam meningkatkan daya saing di pasar bebas dengan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri," beber Wahyudi.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Awali Era Balap Virtual, Dunlop Kini Mejeng di Gran Turismo 7

Awali Era Balap Virtual, Dunlop Kini Mejeng di Gran Turismo 7

OTOTEKNO

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon