Ekspor RI ke AS dan China Tetap Lancar meskipun Ada Perang Dagang
Rabu, 15 Oktober 2025 | 23:18 WIB
Tangerang, Beritasatu.com – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) dan China tetap menunjukkan tren positif meskipun terjadi perang dagang di antara kedua negara tersebut.
“Kalau kita lihat dari angka-angka, enggak ada masalah. Ekspor kita malah terus naik. Surplus tertinggi justru dengan Amerika, dan ekspor ke China juga meningkat,” ujar Mendag Budi di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (15/10/2025).
Ia menambahkan, untuk menjaga kinerja perdagangan luar negeri, Indonesia perlu terus meningkatkan daya saing produk ekspor agar bisa menembus pasar global. Menurut Budi, produk apa pun dapat bersaing di luar negeri selama memenuhi standar dan memiliki kualitas yang baik.
“Prinsip kita sederhana, kita ingin ekspor produk apa pun. Di desa-desa banyak potensi, tetapi belum terstandarisasi. Melalui program Desa Ekspor dan UMKM Bisa Ekspor, produk-produk itu bisa kita dorong agar masuk pasar internasional,” jelasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari–Agustus 2025, nilai ekspor nonmigas ke China mencapai US$ 40,44 miliar atau naik 8,68% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat tercatat sebesar US$ 20,60 miliar dan ke India sebesar US$ 12,59 miliar.
Tiga negara penyumbang surplus perdagangan terbesar pada periode yang sama ialah Amerika Serikat (US$ 12,20 miliar), India (US$ 9,43 miliar), dan Filipina (US$ 5,85 miliar). Adapun defisit terdalam terjadi dengan China (US$ 13,09 miliar), Singapura (US$ 3,55 miliar), dan Australia (US$ 3,49 miliar).
Sementara itu, ketegangan hubungan dagang antara AS dan China kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif baru sebesar 100% terhadap barang-barang asal China serta pembatasan ekspor software penting.
Ketegangan kembali mencuat setelah pada Kamis (9/10/2025), China mengumumkan pembatasan ekspor rare earth elements yang memperluas kontrol atas teknologi pemrosesan dan manufaktur. Kebijakan tersebut juga melarang kerja sama dengan perusahaan asing tanpa izin pemerintah terlebih dahulu.
Sebagai tanggapan, Presiden AS Donald Trump pada Jumat (10/10/2025) menyebut China bersikap “sangat bermusuhan” dan menilai kebijakan pembatasan ekspor tersebut telah menjadikan AS serta dunia sebagai “sandera”.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




