Peta Kekuatan Global Bergeser, Benarkah China Gusur Dominasi AS?
Selasa, 9 Desember 2025 | 15:39 WIB
Beijing, Beritasatu.com – Peta kekuatan global sedang bergeser. Setelah menunjukkan taringnya dalam perang tarif melawan Amerika Serikat (AS), China kini dengan percaya diri memperluas pengaruhnya, mengisi ruang kosong yang perlahan ditinggalkan oleh Washington.
Konfrontasi sengit mengenai tarif, rare earth (tanah jarang), dan pembatasan ekspor antara kedua raksasa ekonomi ini berakhir dengan "gencatan senjata" sementara. Momen ini terjadi saat Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping bertemu di Korea Selatan pada Oktober 2025 lalu.
Banyak analis kebijakan luar negeri meyakini bahwa momentum China telah tiba. Hubungan AS-China dinilai telah memasuki babak baru: Beijing membuktikan kekuatannya dengan merespons ancaman Washington secara tegas, memaksa AS untuk mengambil langkah mundur.
"Hubungan AS-China telah mengalami perubahan struktural. Pihak AS mengakui kekuatan China. Washington telah belajar untuk lebih pragmatis dalam berurusan dengan Beijing dan menunjukkan lebih banyak rasa hormat," ujar Wang Yong, Direktur Pusat Studi Amerika di Universitas Peking.

Kebangkitan Konsep G-2
Dalam pertemuan tersebut, Trump mengejutkan Xi dengan kembali membahas model G2, sebuah konsep di mana AS dan China bersama-sama mengelola urusan dunia. Ini adalah gagasan "hubungan kekuatan besar tipe baru" yang pernah diajukan Xi kepada Barack Obama di Sunnylands, California, pada 2013 silam.
Kala itu, Obama menolaknya karena dianggap mengabaikan sekutu AS. Namun, pendekatan Trump berbeda. Wang Dong, Direktur Eksekutif Institut Pemahaman dan Kerja Sama Global di Universitas Peking, menilai dukungan Trump terhadap G-2 menandakan pengakuan AS atas status baru China.
"Ideologi MAGA (Make America Great Again) adalah perpisahan dengan internasionalisme liberal. Ini adalah konsep baru dan akan menjadi norma baru selama bertahun-tahun mendatang," jelas Wang Dong.
Pejabat China meyakini bahwa di era baru ini, Trump tampak lebih "bernafsu" menjual kedelai Amerika ke China ketimbang ikut campur urusan Taiwan.
Hal ini terlihat dari respons Trump pasca-panggilan telepon dengan Xi pada 24 November. Saat Xi menegaskan bahwa Taiwan adalah bagian integral China, Trump tidak menyinggung isu pulau tersebut di Truth Social, dan justru menulis, “Hubungan kami dengan China sangat kuat”.
Sikap lunak AS terhadap isu Taiwan tampaknya memicu reaksi keras China terhadap Jepang. Ketika Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyebut skenario serangan Taiwan bisa memicu respons militer Tokyo, Beijing langsung menjatuhkan sanksi ekonomi dan diplomatik.
Situasi baru mereda pada 3 Desember 2025 setelah Takaichi menegaskan kembali kepatuhan Jepang pada Deklarasi Bersama 1972 yang menghormati kedaulatan China atas Taiwan.
Di sisi lain, pergeseran kebijakan AS membuka peluang emas bagi China. Wu Xinbo, Kepala Institut Studi Internasional di Universitas Fudan, menyebut kebijakan keras AS dalam perdagangan justru menguntungkan China secara global.
"Dahulu, teknologi mayoritas dari Barat. Sekarang makin banyak yang dari China, terutama sektor energi bersih," kata Wu.
Kekuatan teknologi China kini tak terbantahkan. Keberhasilan DeepSeek, prototipe kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) China, menjadi bukti kehebatan mereka di tengah blokade chip canggih. Selain itu, kesuksesan kebijakan kendaraan listrik (EV) telah mengembalikan langit biru di Beijing.
"Beijing dulu dikenal sebagai ibu kota polusi udara. Tapi sekarang saya kaget mencium bau asap knalpot diesel di kota-kota Amerika atau Eropa, karena bau itu sudah enggak tercium lagi di China. Saya harap ini bukti yang meyakinkan buat dunia," ungkap Ma Jun, Direktur Institut Urusan Publik dan Lingkungan di Beijing.
Meski demikian, Wang Huiyao, Presiden Center for China and Globalization mengingatkan untuk tetap waspada. Menurutnya, pragmatisme Trump justru bisa menjaga posisi AS tetap dominan.
"Dengan fokus pada Amerika alih-alih menyebar ke berbagai front, serta menjaga hubungan 'berteman' dengan China, Amerika masih bisa mempertahankan posisi dominan mereka dalam 20-30 tahun ke depan," pungkas Wang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




