Bidik 5 Besar Dunia, Prabowo Minta Industri Tekstil Diselamatkan
Selasa, 13 Januari 2026 | 09:40 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar industri tekstil nasional diselamatkan dan mendapat perhatian khusus, menyusul meningkatnya tekanan akibat perang dagang global. Sektor tekstil dinilai sebagai industri strategis yang paling tangguh, berorientasi ekspor, serta berpotensi besar menyerap tenaga kerja.
Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam pertemuan di Hambalang, Jawa Barat. Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang menyebut industri tekstil menjadi salah satu sektor paling siap menghadapi ketidakpastian perdagangan internasional.
“Dalam pertemuan tadi malam di Hambalang, Bapak Presiden Prabowo Subianto mendorong pentingnya mempertahankan industri tekstil. Sektor ini paling terbuka dan tangguh dalam menghadapi perang dagang,” ujar Airlangga dalam Workshop Persiapan Pemeriksaan LKPP, LKKL, dan LKBUN 2025 di BPK Tower, Jakarta, Senin (12/1/2026).
Berdasarkan hasil kajian pemerintah, Airlangga menyebut Indonesia memiliki peluang besar masuk lima besar negara produsen tekstil dunia. Karakteristik industri yang fleksibel, pasar global yang stabil, serta kebutuhan tekstil yang terus meningkat menjadi keunggulan utama Indonesia.
“Presiden meminta langkah khusus. Dari studi yang kami lakukan, Indonesia berpotensi menjadi lima besar pemain tekstil dunia karena sektor ini selalu dibutuhkan dan pertumbuhannya relatif kuat,” jelasnya.
Untuk mewujudkan target tersebut, Presiden Prabowo menyetujui pembentukan pendanaan tahap awal sebesar US$ 6 miliar guna memperkuat rantai nilai industri tekstil nasional. Selain itu, pemerintah juga berencana membentuk BUMN khusus yang fokus menangani pengembangan sektor tekstil secara terintegrasi.
“Presiden telah menyetujui usulan pendanaan awal untuk insentif sektor tekstil guna melengkapi value chain industri, dengan kebutuhan sekitar US$ 6 miliar,” kata Airlangga.
Melalui kebijakan ini, pemerintah menargetkan nilai ekspor tekstil Indonesia melonjak signifikan, dari sekitar US$ 4 miliar menjadi US$ 40 miliar dalam 10 tahun ke depan. Pada sisi ketenagakerjaan, sektor tekstil diharapkan mampu menciptakan dua juta lapangan kerja baru.
“Penyerapan tenaga kerja ditargetkan meningkat dari sekitar 4 juta orang menjadi 6 juta orang,” pungkas Airlangga.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




