Outlook Moody's Negatif, Purbaya Tegaskan Ekonomi RI Sudah Balik Arah
Jumat, 6 Februari 2026 | 13:43 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons penurunan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody’s Investors Service. Ia menilai penilaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang saat ini justru menunjukkan perbaikan.
“Ekonomi kita sudah berbalik arah, lebih cepat daripada sebelumnya. Ke depan akan membaik juga, lebih bagus lagi saya pikir pertumbuhannya akan lebih cepat. Nanti Moody’s akan melihat apa yang ada di sini dengan lebih fair,” ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Meski outlook diturunkan, Moody’s tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level Baa2, atau satu tingkat di atas batas investment grade. Purbaya menilai posisi ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap kemampuan fiskal Indonesia masih terjaga, seiring dengan membaiknya kinerja ekonomi nasional.
Ia mengungkapkan, penilaian Moody’s kemungkinan dilakukan sebelum data pertumbuhan ekonomi terbaru dirilis. Padahal, pada kuartal IV 2025 ekonomi Indonesia tumbuh 5,39%, sementara secara tahunan sepanjang 2025 mencapai 5,11%.
“Mungkin mereka keluarkan itu sebelum angka pertumbuhan keluar. Kalau sudah keluar duluan, saya pikir penilaiannya akan berbeda sedikit,” katanya.
Purbaya juga menepis kekhawatiran Moody’s terkait potensi pelebaran defisit fiskal. Menurutnya, kekhawatiran Moody’s soal defisit fiskal dan program belanja seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) atau BPI Danantara tak berdasar. Pemerintah telah memastikan pengelolaan anggaran tetap disiplin dan efisien.
“Program MBG kita pastikan berjalan tepat sasaran, efektif dan efisien. Jangan sampai ada pemborosan yang tidak terkontrol. Saya akan lihat satu per satu, termasuk MBG dan kementerian/lembaga lain, dan kita koreksi bila perlu,” tegas Purbaya.
Ia menegaskan, Indonesia tetap memenuhi dua indikator penting dalam penilaian lembaga pemeringkat, yakni kemampuan dan komitmen pemerintah dalam membayar utang, yang masih berada dalam kondisi aman. Defisit fiskal tetap terkendali dan relatif lebih baik dibandingkan banyak negara lain.
“Kan mereka sebetulnya menilai apakah kita mampu bayar utang atau mau bayar utang. Dua-duanya kita penuhi. Jadi harusnya enggak ada masalah,” ucapnya.
Lebih lanjut, Purbaya menilai penurunan outlook bersifat sementara dan tidak mencerminkan pelemahan struktural ekonomi Indonesia. Selama fondasi ekonomi terus menguat, tekanan terhadap peringkat kredit dinilai tidak beralasan.
“Ini saya pikir hanya jangka pendek saja. Kalau orang yang penakut ya akan takut, tetapi selama fondasi ekonomi kita membaik, defisit terkendali, dan pertumbuhan menguat, harusnya tidak ada alasan untuk downgrade,” katanya.
Ke depan, pemerintah akan memusatkan perhatian pada penguatan fundamental ekonomi, peningkatan kualitas belanja, serta pengendalian kebocoran anggaran, baik di tingkat pusat maupun daerah. Purbaya bahkan membuka peluang perbaikan outlook jika pertumbuhan ekonomi terus meningkat.
“Justru ke depan harusnya ada prospek upgrade, mungkin setelah akhir tahun ketika ekonomi kita tumbuh 6% atau lebih. Jadi saya akan fokus memperbaiki fundamental ekonomi saja,” tandas Purbaya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




