ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Jejak Kelam Saham RI: Sejarah Kejatuhan IHSG dan Faktor Penyebabnya

Jumat, 6 Februari 2026 | 14:15 WIB
KU
AD
Penulis: Khansa Aprita Utami | Editor: AD
IHSG melemah.
IHSG melemah. (ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)

Jakarta, Beritasatu.com - Pasar saham Indonesia kembali berada di bawah tekanan signifikan pada penghujung Januari 2026. Indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat melemah tajam dalam dua hari perdagangan, yakni pada Rabu-Kamis (28-29/1/2026). 

Pada Rabu, IHSG ditutup di level 8.320,56, turun 7,35% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Tekanan berlanjut pada Kamis, ketika IHSG kembali melemah 1,06% ke posisi 8.232,20. Meski sempat menguat 1,18% dan ditutup di level 8.329,60 pada Jumat (30/2/2026), volatilitas tinggi masih membayangi pergerakan pasar.

Tekanan beruntun tersebut mengguncang stabilitas pasar modal dan berdampak pada pengunduran diri Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, pada 30 Januari 2026. Gejolak pasar dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap transparansi pasar saham domestik, menyusul penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Selasa (27/1/2026) yang menyoroti rendahnya porsi saham beredar (free float) serta potensi penurunan status Indonesia dalam indeks global. 

ADVERTISEMENT

Kondisi ini disebut sebagai yang terburuk sejak krisis moneter 1998, sekaligus menghidupkan kembali catatan kelam perjalanan IHSG.

1. Krisis Moneter Asia 1998: Titik Terendah Pasar Saham Nasional

Pada 1998 menjadi periode paling suram dalam sejarah pasar modal Indonesia. Pada 8 Januari 1998, IHSG mencatat penurunan terdalam sepanjang sejarah dengan anjlok 11,88% dalam satu hari perdagangan, dari kisaran level 390 ke posisi 347,1.

Kejatuhan ini terjadi di tengah krisis moneter Asia yang meluluhlantakkan nilai tukar rupiah, melemahkan sektor perbankan, serta mengguncang fondasi perekonomian nasional. Ketidakpastian politik dan krisis kepercayaan terhadap pemerintah kala itu memperparah situasi, mendorong aksi jual besar-besaran oleh investor domestik maupun asing. Hingga kini, peristiwa 1998 masih menjadi tolok ukur krisis terdalam pasar saham Indonesia.

2. Krisis Keuangan Global 2008: Dampak Krisis Subprime Mortgage

Satu dekade berselang, pasar saham Indonesia kembali menghadapi tekanan hebat akibat krisis keuangan global 2008. Pada 8 Oktober 2008, IHSG terperosok tajam seiring runtuhnya pasar keuangan global yang dipicu krisis subprime mortgage di Amerika Serikat.

Dalam periode tersebut, IHSG tercatat kehilangan sekitar 55% dari nilainya, merosot dari level tertinggi di kisaran 2.800 ke titik terendah 1.111. Besarnya tekanan global memaksa otoritas pasar modal menerapkan kebijakan luar biasa, termasuk penghentian sementara perdagangan saham (trading halt), guna meredam kepanikan dan menjaga stabilitas pasar.

3. Pandemi Covid-19 2020: Tekanan Kesehatan yang Menjadi Krisis Pasar

Pandemi Covid-19 yang merebak pada awal 2020 kembali menguji ketahanan pasar saham Indonesia. Kepanikan global akibat pembatasan mobilitas, perlambatan aktivitas ekonomi, serta ketidakpastian penanganan kesehatan mendorong aksi jual serentak di pasar keuangan dunia.

IHSG mengalami beberapa kali trading halt setelah penurunan harian menembus ambang batas 5%. Dalam kurun waktu singkat, indeks kehilangan hampir 40% dari nilainya dan terperosok ke level 3.973 pada 24 Maret 2020, menjadi posisi terendah dalam lebih dari satu dekade.

4. Krisis 2025-2026: Isu Transparansi dan Kepercayaan Investor

Memasuki 2025 hingga awal 2026, pasar modal Indonesia kembali dihadapkan pada tekanan serius. Pada 18 Maret 2025, penurunan peringkat kredit memicu aksi jual massal yang menyeret IHSG turun 7,1% dalam satu hari perdagangan.

Tekanan meningkat pada 28-29 Januari 2026, setelah penilaian MSCI terkait transparansi dan struktur pasar saham domestik memicu kekhawatiran investor global. Dalam dua hari perdagangan tersebut, IHSG tercatat merosot hingga 16,7%. Meski indeks sempat berbalik menguat pada 30 Januari 2026, sentimen kehati-hatian masih mendominasi pergerakan pasar.

Krisis ini menyoroti persoalan struktural pasar saham Indonesia, mulai dari rendahnya porsi saham beredar, dominasi pemegang saham pengendali, hingga potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global MSCI.

5. Faktor Lain yang Pernah Menekan IHSG

Di luar krisis ekonomi besar, IHSG juga beberapa kali mengalami tekanan tajam akibat faktor non-ekonomi. Serangan Bom Bali 2002, misalnya, memicu penurunan IHSG hingga 10% dalam dua hari setelah kejadian akibat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap stabilitas keamanan.

Penurunan signifikan juga tercatat pada 2003 menyusul aksi teror di Jakarta, serta pada 2016 dan 2018 yang dipengaruhi oleh ketidakpastian politik dan tekanan nilai tukar rupiah. Rangkaian peristiwa tersebut menegaskan bahwa pergerakan pasar saham sangat sensitif terhadap dinamika global maupun domestik.

Sejarah menunjukkan bahwa kejatuhan pasar saham Indonesia bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari siklus yang dipengaruhi oleh faktor global, domestik, dan struktural. Dari krisis moneter 1998 hingga gejolak pasar 2026, IHSG kerap menjadi cerminan rapuhnya kepercayaan investor ketika stabilitas ekonomi dan transparansi pasar dipertanyakan.

Namun, pengalaman panjang menghadapi berbagai krisis turut membentuk ketahanan pasar modal nasional. Bagi investor, pemahaman terhadap sejarah anjloknya IHSG menjadi bekal penting untuk mengelola risiko, membaca dinamika pasar, serta mengambil keputusan investasi secara lebih terukur di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

IHSG Hari Ini Balik Arah Menguat pada Akhir Penutupan Perdagangan

IHSG Hari Ini Balik Arah Menguat pada Akhir Penutupan Perdagangan

EKONOMI
Jika Sentimen Tak Membaik, IHSG Bisa Jeblok ke Level 4.000

Jika Sentimen Tak Membaik, IHSG Bisa Jeblok ke Level 4.000

EKONOMI
IHSG Hari Ini Dibuka Anjlok Hampir 2 Persen

IHSG Hari Ini Dibuka Anjlok Hampir 2 Persen

EKONOMI
IHSG Anjlok 11,92% Sepanjang Mei, OJK: Ketidakpastian Tinggi

IHSG Anjlok 11,92% Sepanjang Mei, OJK: Ketidakpastian Tinggi

EKONOMI
Rupiah Rp 17.700 dan IHSG Bergejolak, Seberapa Kuat Ekonomi RI?

Rupiah Rp 17.700 dan IHSG Bergejolak, Seberapa Kuat Ekonomi RI?

EKONOMI
OJK: Koreksi IHSG Sejalan dengan Bursa Regional Asia

OJK: Koreksi IHSG Sejalan dengan Bursa Regional Asia

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon