ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bitcoin mulai Rebound Seusai Sentuh Level US$ 60.000

Jumat, 6 Februari 2026 | 16:45 WIB
H
H
Penulis: Herman | Editor: HE
Ilustrasi Bitcoin
Ilustrasi Bitcoin (Freepik/pvproductions)

Potensi Lonjakan Harga

Bitcoin yang mengalami tekanan hebat pada Kamis (5/2/2026) disebut berada dalam kondisi oversold paling ekstrem ketiga sepanjang sejarahnya, berdasarkan indikator teknikal populer Relative Strength Index (RSI). Sejumlah analis menilai, kondisi ini justru bisa menjadi pertanda potensi lonjakan harga yang signifikan dalam waktu dekat.

Dikutip dari Coindeks, indikator RSI harian Bitcoin tercatat turun hingga level 17,6 (skala 0–100) pada Kamis (5/2/2026). RSI merupakan indikator momentum yang digunakan untuk mengukur apakah suatu aset berada dalam kondisi jenuh jual (oversold) atau jenuh beli (overbought). Level di bawah 30 umumnya dianggap sebagai oversold.

Dalam sejarah modern Bitcoin, hanya dua periode yang mencatat RSI lebih rendah dari saat ini, yakni saat dasar bear market tahun 2018 dengan RSI 9,5 serta saat kejatuhan pasar akibat pandemi Covid-19 pada 2020 dengan RSI 15,6.

ADVERTISEMENT

Meski tekanan jual sangat kuat, sejumlah pelaku pasar menilai kondisi oversold ekstrem ini dapat membuka peluang kenaikan besar, bukan sekadar rebound jangka pendek.

Pengalaman historis menunjukkan, kondisi serupa pernah diikuti lonjakan tajam. Pada 2018, harga Bitcoin melonjak lebih dari empat kali lipat dalam delapan bulan, dari US$ 3.150 menjadi US$ 13.800. Sementara pada 2020, Bitcoin melesat dari US$ 3.900 ke puncak siklus di US$ 65.000 dalam waktu sekitar satu tahun.

Pergerakan Harga Bitcoin

Pasar kripto sebetulnya sempat melonjak tajam pada awal 2025 setelah terpilihnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dikenal ramah terhadap aset kripto. Namun, kripto dan juga pasar saham anjlok pada April 2025 setelah Trump mengumumkan kebijakan tarif baru.

Harga kemudian pulih dengan cepat, mendorong Bitcoin mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$ 126.000 pada awal Oktober 2025. Namun, hanya beberapa hari berselang, tepatnya pada 10 Oktober 2025, pasar kembali tertekan setelah Trump mengumumkan tarif baru atas impor dari China serta mengancam pembatasan ekspor perangkat lunak strategis.

Tekanan terhadap Bitcoin terus berlanjut pada 2026 dan kini mendekati level psikologis US$ 60.000. Harga bergerak naik-turun antara zona hijau dan merah sepanjang sesi.

Level tersebut menjadi yang terlemah sejak Oktober 2024, sebulan sebelum Donald Trump memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat, setelah sebelumnya menyatakan dukungan terhadap industri kripto dalam kampanye.

Presiden Spectra Markets, Brent Donnelly juga pernah mengingatkan bahwa pada crash 2018 dan 2022, Bitcoin pernah jatuh 75%-80% dari puncaknya. Apabila pola itu terulang, Bitcoin berpotensi anjlok hingga US$ 25.000.

“Saya tidak mengatakan kita memasuki crypto winter. Hanya mengingatkan bahwa penurunan 75%–80% adalah pola yang pernah terjadi di Bitcoin,” kata Donnelly.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kesepakatan Damai AS-Iran Bikin Harga Bitcoin Kembali Menguat

Kesepakatan Damai AS-Iran Bikin Harga Bitcoin Kembali Menguat

EKONOMI
Sentimen FOMC Jadi Penghambat Kinerja Bitcoin

Sentimen FOMC Jadi Penghambat Kinerja Bitcoin

EKONOMI
Harga Bitcoin Hari Ini Tertahan Jelang Rapat The Fed

Harga Bitcoin Hari Ini Tertahan Jelang Rapat The Fed

EKONOMI
Bitcoin Hapus Kenaikan Harga Era Trump, Jadi Peluang Beli?

Bitcoin Hapus Kenaikan Harga Era Trump, Jadi Peluang Beli?

EKONOMI
Biang Kerok Harga Bitcoin Anjlok ke Level Terendah

Biang Kerok Harga Bitcoin Anjlok ke Level Terendah

EKONOMI
Proof of Reserves Indodax US$ 1 Miliar, Sinyal Pasar Kripto Menguat?

Proof of Reserves Indodax US$ 1 Miliar, Sinyal Pasar Kripto Menguat?

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon