Bitcoin Hapus Kenaikan Harga Era Trump, Jadi Peluang Beli?
Sabtu, 7 Februari 2026 | 20:34 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Harga Bitcoin menghapus seluruh kenaikan yang sempat tercatat sejak terpilihnya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru di pasar kripto, terutama karena likuiditas yang dinilai semakin menipis dan volatilitas yang masih tinggi.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (7/2/2026), penurunan Bitcoin terjadi seiring kekhawatiran investor terhadap valuasi saham teknologi yang dinilai terlalu tinggi serta ketidakpastian arah kebijakan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).
Analis riset dari penyedia data kripto Kaiko, Thomas Probst, mengatakan tekanan di pasar kripto sudah berlangsung selama beberapa bulan.
“Kontraksi ini telah berlangsung selama beberapa bulan dan masih berlanjut, menunjukkan kemungkinan akan bertahan untuk beberapa waktu ke depan,” ujar Probst.
Ia menambahkan, likuiditas yang menurun membuat pergerakan harga semakin liar.
“Likuiditas yang berkurang berarti pergerakan harga menjadi lebih tajam dan tidak menentu,” tambahnya.
Pada 30 Januari 2026, pasar kripto dan logam mulia sempat anjlok setelah Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai ketua The Fed berikutnya. Penunjukan tersebut memicu ekspektasi bahwa neraca The Fed akan diperkecil, yang berpotensi menekan permintaan terhadap Bitcoin.
Harga aset digital kemudian sempat turun hingga 20% pada Kamis (5/2/2026) sebelum kembali rebound pada Jumat (6/2/2026). Bitcoin bahkan sempat merosot di bawah US$ 61.000, level terendah sejak sebulan sebelum pemilu AS. Padahal Bitcoin sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$ 126.000 pada awal Oktober 2025.
Peluang Beli?
Meski tekanan masih terasa, sejumlah analis menilai pasar bisa saja mendekati titik terendah.
“Ada beberapa indikator yang menunjukkan bahwa kita sangat dekat dengan titik dasar harga, atau bahkan sudah mencapainya,” kata Head of Research CoinShares, James Butterfill.
Ia menambahkan, sebagian investor justru melihat kondisi ini sebagai peluang beli. “Saya pikir banyak investor melihat ini sebagai peluang, bukan sebagai alasan untuk panik,” ujarnya.
Butterfill juga menyebut aksi jual oleh investor besar atau “whales” (pemilik 10.000 Bitcoin atau lebih) mulai melambat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




