ANZ Naikkan Target Harga Emas Dunia Jadi US$ 5.800
Selasa, 17 Februari 2026 | 11:32 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Bank asal Australia, ANZ, menaikkan proyeksi harga emas untuk kuartal II 2026 menjadi US$ 5.800 per ons troi. Target ini lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya di level US$ 5.400 per ons troi.
Dalam laporan riset terbarunya, analis komoditas ANZ menyebutkan harga emas saat ini memang terlihat berkonsolidasi di sekitar US$ 5.000 per ons troi. Namun, kondisi tersebut dinilai bukan pertanda bahwa reli emas telah berakhir.
“Meski volatilitas terbaru memunculkan pertanyaan apakah harga emas sudah mencapai puncaknya, kami percaya reli ini belum cukup matang untuk berbalik arah dalam waktu dekat,” tulis para analis ANZ, dikutip dari Kitco News, Selasa (17/2/202).
Penurunan tajam harga emas dari rekor bulan lalu yang mendekati US$ 5.600 sempat memicu kekhawatiran investor akan potensi kejatuhan seperti siklus 1980 atau 2011. Namun, ANZ menilai kondisi pasar saat ini berbeda.
Emas dinilai tetap mendapat dukungan kuat karena bank sentral Amerika Serikat (AS) diperkirakan memangkas suku bunga setidaknya dua kali tahun ini. Penurunan tekanan inflasi bahkan membuka peluang pemangkasan ketiga pada Desember 2026.
“Kami memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin, satu pada Maret dan satu lagi pada Juni. Ini akan menjaga suku bunga riil tetap menurun dan mendukung arus masuk ke emas. Ketidakpastian geopolitik dan ekonomi kemungkinan akan terus berlanjut, dengan Trump tetap menggunakan tarif sebagai ancaman," papar analis ANZ.
Mereka menambahkan, perhatian pasar mulai beralih pada dampak tarif yang belum sepenuhnya tercermin dalam data ekonomi dan inflasi. Keraguan terhadap kredibilitas The Fed juga masih ada.
"Latar belakang seperti ini akan meningkatkan minat investor terhadap aset riil seperti emas,” tulis analis ANZ.
Emas Jadi Aset Lindung Nilai Global
ANZ juga menilai emas tetap menjadi “polis asuransi” utama terhadap ketidakpastian sistem keuangan global. Obligasi pemerintah AS yang sebelumnya dianggap sebagai aset bebas risiko kini dinilai menghadapi tantangan kepercayaan akibat lonjakan utang dan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral.
“Sistem keuangan global sedang mengalami pergeseran struktural. US Treasury yang dahulu dianggap sebagai aset bebas risiko terbesar di dunia kini menghadapi persoalan kepercayaan. Lonjakan utang, kekhawatiran terhadap independensi The Fed, serta meningkatnya risiko sanksi telah mengubah statusnya secara fundamental,” tulis analis ANZ.
Dari sisi permintaan, ANZ memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral tetap kuat hingga 2026. Arus masuk ke ETF berbasis emas diperkirakan terus berlanjut, dengan total kepemilikan berpotensi melampaui 4.800 ton tahun ini.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




