Bapanas Sebut Cuaca Penyebab Harga Cabai Rawit Mahal
Kamis, 19 Februari 2026 | 04:13 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut tingginya harga cabai rawit disebabkan akibat faktor cuaca. Gangguan panen akibat intensitas hujan menjadi pemicu utama terbatasnya pasokan yang masuk ke pasar, meski ketersediaan tanaman di tingkat petani sebenarnya mencukupi.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Ketut Astawa menjelaskan hujan membuat petani menunda aktivitas pemetikan sehingga distribusi cabai ke pasar tidak optimal.
Baca Juga: Harga Cabai Rawit Naik karena Proses Panen dan Distribusi
"Kondisi yang terjadi bukan karena kekurangan produksi, melainkan hambatan panen di lapangan. Barang sebenarnya banyak di standing crop, tetapi karena hujan tidak ada yang berani memetik,” ujar Ketut dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Harga cabai rawit merah sebelumnya sempat menyentuh Rp 78.000 hingga Rp 98.000 per kilogram di Pasar Induk Kediri, sementara di pelelangan cabai Sleman berada di kisaran Rp 75.000 per kilogram di tingkat petani. Namun, harga sempat turun ke kisaran Rp 55.000 per kilogram sebelum kembali terpengaruh cuaca.
Sebagai langkah konkret, Bapanas akan menjajaki tambahan pasokan dari sentra produksi di Lembang untuk didistribusikan melalui skema fasilitasi distribusi pangan (FDP) ke pasar-pasar induk strategis, seperti Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Induk Tanah Tinggi.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan pasokan di tingkat perdagangan sehingga harga berangsur turun.
“Pasar induk akan kita tambah pasokannya supaya harga bisa terkoreksi. Kalau tidak diserbu pasokan, harga sulit turun,” kata Ketut.
Upaya stabilisasi ini menjadi bagian dari strategi berkelanjutan pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga pangan, khususnya komoditas hortikultura yang memiliki volatilitas tinggi dan sangat bergantung pada kondisi cuaca serta kelancaran distribusi.
Sebelumnya, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menegaskan pengendalian harga pangan merupakan arahan langsung pemerintah. Ia menyebut stabilitas harga selama Ramadan dan Idulfitri 2025 menjadi indikator keberhasilan koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
Melalui penguatan sinergi pengendalian inflasi antara pemerintah pusat dan daerah, Bapanas juga menekankan pentingnya kerja bersama seluruh pemangku kepentingan di lapangan. Pemerintah daerah, dinas pangan, dinas perdagangan, hingga aparat penegak hukum diharapkan bergerak terpadu untuk memastikan stabilitas harga tetap terjaga sekaligus melindungi kepentingan petani, pedagang, dan konsumen.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




