Pedagang Pasar Induk Ungkap Cara Tekan Harga Cabai Rawit di Jakarta
Senin, 16 Februari 2026 | 16:34 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, menyebut penurunan harga cabai rawit merah dipengaruhi pasokan antardaerah, kualitas produk, dan ongkos distribusi yang membentuk koreksi harga di tingkat pedagang.
Asep, pedagang cabai, mengatakan harga cabai rawit merah saat ini berkisar Rp 80.000 per kilogram, turun dibandingkan sepekan sebelumnya yang sempat mencapai Rp 90.000–Rp 100.000 per kg.
“Kalau rawit merah sekarang tergantung tawarannya. Modalnya sekitar Rp 65.000 per kg, jadi dijual di sekitar Rp 80.000-an. Kalau pembeli menawar Rp 80.000 juga dikasih, daripada tidak laku,” ujarnya dilansir dari Antara, Senin (16/2/2026).
Penurunan harga terjadi seiring bertambahnya pasokan cabai dari berbagai daerah, termasuk luar Pulau Jawa, sehingga tekanan harga berkurang. Kualitas cabai juga memengaruhi harga. Cabai dari Jawa Barat lebih disukai karena dipetik dan langsung dikirim ke pasar tanpa harus menginap, sehingga ongkos distribusi lebih rendah dan produk tetap segar.
Pedagang lain, Ujang, menambahkan sebagian penjual mencampur beberapa jenis cabai agar harga tetap terjangkau bagi konsumen di tengah daya beli yang masih sensitif. Sementara Joharlis, salah satu bandar cabai, menyebut pasokan dari Sulawesi Selatan, termasuk Makassar, berperan besar menahan lonjakan harga. Pasokan dari wilayah itu dapat mencapai sekitar 20 ton per hari di pasar induk.
Ongkos distribusi dari Sulawesi ke Jakarta berkisar Rp 10.000 per kg, sehingga biaya logistik turut memengaruhi harga di tingkat pedagang. Joharlis menambahkan cabai rawit memiliki daya simpan terbatas, rata-rata hanya tiga hari, sehingga perputaran barang harus cepat agar kualitas tetap terjaga.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui inspeksi mendadak di Pasar Induk Kramat Jati, Senin (16/2/2026), memastikan pasokan relatif aman meski harga cabai rawit merah masih perlu dikendalikan. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan I Gusti Ketut Astawa menyatakan fluktuasi harga disebabkan perbedaan produksi dan distribusi.
“Produksi sebenarnya cukup, tapi kendalanya di petik. Saat hujan tinggi, tenaga kerja tidak berani memetik karena cabai cepat busuk,” ujar Ketut. Bapanas juga menyiapkan langkah fasilitasi distribusi pangan (FDP) untuk membantu menurunkan harga di tingkat konsumen.
Dengan pasokan yang tersedia dan intervensi distribusi, pedagang berharap harga cabai rawit dapat bergerak lebih stabil menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




