The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga di Tengah Perang Iran
Rabu, 18 Maret 2026 | 12:25 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), diperkirakan akan menahan suku bunga dalam rapat kebijakan pada Rabu (18/3/2026). Namun, perhatian utama pasar tertuju pada bagaimana The Fed memandang dampak perang Iran terhadap ekonomi, inflasi, dan arah kebijakan moneter.
Pertemuan ini berlangsung di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Kondisi ini dinilai mengubah proyeksi ekonomi secara signifikan.
Para ekonom menilai dampak perang terhadap ekonomi global masih penuh ketidakpastian. Hal ini bergantung pada lamanya konflik berlangsung, kondisi pemerintahan Iran pascaperang, serta pergerakan harga minyak.
Bagi The Fed, situasi ini menciptakan dilema antara tekanan inflasi yang meningkat dan risiko perlambatan ekonomi serta pasar tenaga kerja. Keputusan suku bunga, pernyataan kebijakan, serta proyeksi ekonomi terbaru akan diumumkan seusai rapat dua hari pada 17-18 Maret 2026, diikuti konferensi pers Ketua The Fed, Jerome Powell.
Ekonom utama KPMG, Diane Swonk, menilai proyeksi terbaru The Fed berpotensi mengarah pada kondisi stagflasi, yakni kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi lemah.
“Proyeksi dibuat di tengah ketidakpastian besar. Saya memperkirakan peserta rapat akan menurunkan proyeksi pertumbuhan, sekaligus menaikkan estimasi inflasi dan pengangguran,” kata Diane Swonk, dikutip dari Reuters.
Pelaku pasar kini mulai menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini. Pasar berjangka memperkirakan hanya ada satu kali pemangkasan sebesar 0,25% pada September 2026, serta tambahan pemangkasan pada 2027.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




