Airlangga Sebut Ketergantungan RI pada Selat Hormuz hanya 20 Persen
Senin, 27 April 2026 | 15:02 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan Indonesia relatif lebih tahan menghadapi risiko krisis energi global. Salah satu alasannya, ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari Timur Tengah dan jalur Selat Hormuz hanya sekitar 20%.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Konflik tersebut berdampak pada terganggunya jalur distribusi energi global, khususnya minyak dan gas.
“Negara Asia ini sangat tergantung kepada Middle East, kepada Selat Hormuz, tetapi Indonesia tidak. Jadi Indonesia bergantung sekitar 20%,” kata Airlangga dalam acara National Policy Dialogue dan kick off Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI), Senin (27/4/2026).
Airlangga menjelaskan, sejumlah negara Asia memiliki ketergantungan energi jauh lebih tinggi terhadap Timur Tengah. Dalam forum ASEAN Zero Emission Community (AZEC), disebutkan ada negara dengan ketergantungan hingga 70% terhadap pasokan energi dari kawasan tersebut.
Menurutnya, posisi Indonesia lebih kuat karena bauran energi nasional masih ditopang sumber domestik, terutama batu bara dan gas. Kondisi ini membuat dampak gangguan energi global tidak sebesar negara lain yang bergantung pada impor minyak.
“Indonesia relatif menjaga ketahanan karena tidak terlalu tergantung pada Middle East. Sebagian besar energy mix untuk listrik itu berbasis kepada batu bara dan gas,” ujarnya.
Ia menilai komposisi energi tersebut turut memperkuat daya tahan ekonomi nasional di tengah gejolak global. Apabila gangguan pasokan energi berlangsung lama, negara yang bergantung pada impor dari Timur Tengah berisiko mengalami lonjakan harga energi, inflasi, serta kenaikan biaya produksi.
Airlangga juga menyebut JP Morgan Asset Management menempatkan Indonesia di peringkat kedua sebagai negara paling tahan terhadap guncangan energi global.
Dari sisi fundamental, ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat. Pertumbuhan ekonomi pada 2025 tercatat 5,11%, dengan target 2026 sebesar 5,4%. Untuk kuartal I 2026, pemerintah memperkirakan pertumbuhan dapat mencapai minimal 5,5%.
Selain itu, konsumsi domestik masih menjadi penopang utama dengan kontribusi sekitar 54% terhadap produk domestik bruto (PDB). Indeks keyakinan konsumen berada pada level 122,9, sementara neraca perdagangan mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah menilai Indonesia masih memiliki ruang untuk terus tumbuh meski tekanan global belum mereda. Airlangga menambahkan, sejumlah lembaga internasional memperkirakan probabilitas resesi Indonesia berada di bawah angka 5%, lebih rendah dibandingkan negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Kanada.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




