ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BI Optimistis Pelemahan Rupiah ke Rp 17.500 Hanya Sementara

Selasa, 12 Mei 2026 | 19:41 WIB
AH
AD
Penulis: Akmalal Hamdhi | Editor: AD
Ilustrasi Bank Indonesia.
Ilustrasi Bank Indonesia. (Antara/Dokumentasi BI)

Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. Tekanan terhadap rupiah dinilai hanya bersifat sementara dan dipicu kombinasi faktor global maupun domestik.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

“Tekanan rupiah meningkat karena situasi di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat, mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” ujar Destry dalam keterangan tertulis, Selasa (12/5/2026).

ADVERTISEMENT

Menurut Destry, konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global serta mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri yang bersifat musiman. Permintaan valas meningkat untuk pembayaran utang luar negeri (ULN), distribusi dividen perusahaan, hingga kebutuhan musim ibadah haji.

Namun, BI memastikan pelemahan rupiah saat ini tidak akan berlangsung lama dan nilai tukar diperkirakan kembali bergerak sesuai fundamental ekonomi nasional.

“Nilai tukar rupiah akan kembali ke level fundamentalnya,” kata Destry.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI menegaskan akan terus melakukan strategi smart intervention melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga non-deliverable forward (NDF).

Selain intervensi pasar, BI juga akan mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter guna meredam tekanan di pasar keuangan domestik.

Pada sisi lain, BI melihat kepercayaan investor asing terhadap aset Indonesia masih cukup kuat. Hal tersebut tercermin dari aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Sepanjang April 2026, capital inflow ke pasar domestik tercatat mencapai Rp 61,6 triliun.

Likuiditas valuta asing nasional juga dinilai tetap terjaga. Hingga akhir Maret 2026, dana pihak ketiga (DPK) valas tercatat tumbuh 10,9% secara year to date (ytd).

Dengan kombinasi intervensi pasar, masuknya aliran modal asing, dan kondisi likuiditas valas yang masih memadai, BI optimistis tekanan terhadap rupiah akan segera mereda.

Sebagai informasi, berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 17.529 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Posisi tersebut melemah 0,66% secara harian dan menjadi level penutupan terendah sepanjang sejarah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Rupiah Melemah, Segelintir Orang Diuntungkan tetapi Mayoritas Tertekan

Rupiah Melemah, Segelintir Orang Diuntungkan tetapi Mayoritas Tertekan

EKONOMI
BI dan Pemerintah Diminta Lebih Sinkron Jaga Rupiah

BI dan Pemerintah Diminta Lebih Sinkron Jaga Rupiah

EKONOMI
Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
BI Klaim Rupiah Kini Semakin Sulit Dipalsukan

BI Klaim Rupiah Kini Semakin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

EKONOMI
Rupiah Rontok ke Rp 17.528 Per Dolar AS, Purbaya Siap Dipanggil DPR RI

Rupiah Rontok ke Rp 17.528 Per Dolar AS, Purbaya Siap Dipanggil DPR RI

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon