ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Rupiah Babak Belur, Dunia Usaha Tak Lagi Tenang

Rabu, 13 Mei 2026 | 14:30 WIB
AH
H
Penulis: Akmalal Hamdhi | Editor: HE
Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha nasional.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha nasional. (Antara/Maulana Surya)

Menghadapi tekanan tersebut, dunia usaha mulai menerapkan strategi bisnis yang lebih hati-hati atau prudent. Salah satu langkah yang ditempuh adalah selective growth, yakni tetap melakukan ekspansi tetapi secara lebih selektif dengan mempertimbangkan permintaan pasar, efisiensi biaya, dan kepastian keuntungan investasi.

Sementara itu, investasi yang bersifat spekulatif atau sangat bergantung pada kondisi eksternal mulai ditunda.

Perusahaan juga mulai memperkuat manajemen risiko dengan meningkatkan penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging terhadap fluktuasi kurs rupiah. Selain itu, pelaku usaha mulai menata ulang struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing.

Di sisi operasional, perusahaan fokus melakukan efisiensi melalui pengurangan belanja modal atau capital expenditure (capex), optimalisasi modal kerja, hingga peningkatan produktivitas.

ADVERTISEMENT

Diversifikasi pemasok dan upaya substitusi impor juga mulai dilakukan, meski kemampuan pasokan domestik di berbagai sektor masih terbatas.

“Ruang adaptasi tetap ada, tetapi tidak sepenuhnya mampu mengimbangi besarnya tekanan eksternal yang terjadi saat ini,” jelas Shinta.

Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani - (Beritasatu.com/Akmalal Hamdhi)
Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani - (Beritasatu.com/Akmalal Hamdhi)

Apindo menilai tekanan terhadap rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga dinamika global seperti kenaikan imbal hasil US Treasury dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong arus modal masuk ke aset dolar AS.

Di tengah kondisi tersebut, Apindo menilai langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% merupakan bentuk kehati-hatian untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar.

Namun, Shinta menegaskan stabilitas moneter saja belum cukup untuk menjaga dunia usaha di tengah tekanan global yang masih tinggi.

"Dengan pendekatan yang terukur dan kolaborasi kebijakan yang kuat, kami meyakini stabilitas dapat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi dapat terus berjalan secara berkelanjutan di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian," kata Shinta. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Tekanan Rupiah Akan Mereda, Sekarang Saatnya Jual Dolar AS

Tekanan Rupiah Akan Mereda, Sekarang Saatnya Jual Dolar AS

EKONOMI
Tekanan Geopolitik dan Faktor Musiman Jadi Penyebab Rupiah Melemah

Tekanan Geopolitik dan Faktor Musiman Jadi Penyebab Rupiah Melemah

EKONOMI
Rupiah Turun ke Bawah Level Rp 17.500 Per Dolar AS pada Rabu Siang

Rupiah Turun ke Bawah Level Rp 17.500 Per Dolar AS pada Rabu Siang

EKONOMI
Rupiah Tembus Rp 17.539 Per Dolar AS Pagi Hari Ini 13 Mei 2026

Rupiah Tembus Rp 17.539 Per Dolar AS Pagi Hari Ini 13 Mei 2026

EKONOMI
Rupiah Jatuh, Pengusaha Mulai Tahan Ekspansi

Rupiah Jatuh, Pengusaha Mulai Tahan Ekspansi

EKONOMI
Pelemahan Rupiah Saat Ini Beda dengan Krisis Moneter 1998

Pelemahan Rupiah Saat Ini Beda dengan Krisis Moneter 1998

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon