ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Terowongan MRT Capai 620 Meter

Kamis, 17 Maret 2016 | 22:46 WIB
TD
B
Penulis: Thresa Sandra Desfika | Editor: B1
Pembangunan terowongan untuk proyek mass rapid transit (MRT) di Jakarta, Kamis 17 Maret 2016.
Pembangunan terowongan untuk proyek mass rapid transit (MRT) di Jakarta, Kamis 17 Maret 2016. (SP/Ruht Semiono)

Jakarta - Pengerjaan terowongan bawah tanah mass rapid transit (MRT) Jakarta, yang dimulai Agustus 2015, sudah mencapai 620 meter (m) hingga Kamis (17/3). Dua bor raksasa yang didatangkan dari Jepang ini tengah menuntaskan tahap pengeboran terowongan bawah tanah dari titik Patung Pemuda Senayan sampai Bundaran Hotel Indonesia (HI), sepanjang hampir 5,9 kilometer (km).

"Pengerjaan terowongan bawah tanah untuk MRT Jakarta tahap 1 fase 1 lintas Lebak Bulus-Bundaran HI tengah dalam proses pengeboran dari Stasiun Senayan ke Stasiun Istora. Pengeboran dengan menggunakan tunnel boring machine (TBM) Antareja I sudah mencapai 300 m dari target 630 m, yaitu dari titik Stasiun Senayan menuju Istora dan ditargetkan menembus Istora pada April 2016. Sedangkan Antareja II tengah disiapkan untuk memulai pengeboran dari Senayan menuju Istora, yang ditargekan dimulai pada akhir bulan ini," papar President Director Shimizu Corporation to Jakarta MRT Osaka Kazuya saat peninjauan proyek MRT Jakarta di Senayan, Jakarta, Kamis (17/3). Ia mendampingi Duta Besar Jepang untuk Indonesia Tanizaki Yasuaki dan Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang Rachmat Gobel.

Dia menjelaskan, kedua bor itu sebelumnya sudah menyelesaikan pengeboran untuk terowongan bawah tanah dari Patung Pemuda Senayan menuju Stasiun Senayan, sepanjang 320 m. Antareja I menuntaskan tugas itu pada Desember 2015, sedangkan Antareja II menyelesaikannya pada Januari 2016.

"Kedua bor yang didatangkan dari Jepang ini akan terus mengebor terowongan bawah tanah sepanjang hampir 5,9 km dari titik Patung Pemuda Senayan sampai dengan Bundaran HI. Ini melewati enam stasiun bawah tanah, yaitu Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran HI. Kami sudah melakukan pengeboran itu sejak Agustus 2015, dengan menggunakan Antareja I," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Osaka menjelaskan, dalam desain MRT, akan ada dua lintasan kereta api (KA) yang masing-masing dimanfaatkan untuk arah yang berbeda. Oleh karena itu dibutuhkan dua terowongan yang berdampingan, di mana dua bor raksasa yang digunakan mampu mengebor sepanjang 10 m sehari.

"Kami mengebor dua terowongan dengan memanfaatkan dua bor. Yang kami bangun ini dengan bor yang mengarah ke Setiabudi. Jadi, untuk bisa sampai ke Istora diperkirakan pertengahan bulan depan, sedangkan sampai ke Setiabudi direncanakan awal tahun depan," kata Osaka.

Berdasarkan master plan MRT Jakarta, jaringan transportasi publik berbasis rel itu bakal membentang kurang lebih 110,8 km menembus jantung kota Jakarta. Jaringan ini terdiri atas koridor selatan-utara (Lebak Bulus-Kampung Bandan) sepanjang 23,8 km dan koridor timur-barat sekitar 87 km.

Pembangunan koridor Lebak Bulus-Kampung Bandan akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap I meliputi koridor yang menghubungkan Lebak Bulus sampai Bundaran HI sepanjang 15,7 km. Koridor yang ditargetkan beroperasi mulai 2018 ini didukung 13 stasiun, terdiri atas tujuh stasiun layang dan enam stasiun bawah tanah. Adapun tahap II mencakup jalur dari Bundaran HI ke Kampung Bandan. Koridor sepanjang 8,1 km yang akan mulai dibangun sebelum tahap I rampung itu ditargetkan beroperasi mulai 2020.

Untuk pembangunan tahap I, pinjaman Jepang dikucurkan dalam dua tahap, yakni sebesar 50 miliar yen atau sekitar Rp 5,7 triliun untuk kucuran pertama dan 75 miliar yen atau sekitar Rp 8,6 triliun untuk kucuran kedua. Direktur Utama MRT Jakarta Dono Boestami mengatakan sebelumnya, operasional MRT tahap I akan dilayani 96 gerbong kereta yang tergabung dalam 14 rangkaian.

"Pada tahap awal ada 175.000 penumpang setiap hari dan angka ini bisa melonjak nantinya menjadi 600.000 per hari. Dengan semakin banyaknya penumpang, kawasan sekitar stasiun harus ditata. Nanti trotoar Sudirman-Thamrin akan dilebarkan menjadi sembilan meter. Wajah trotoar Jakarta akan lebih besar dan manusiawi," imbuh Dono.

Sementara itu, koridor timur-barat masih dalam tahap studi kelayakan. Koridor ini ditargetkan beroperasi paling lambat pada 2024-2027.

Lebih Cepat
Osaka menjelaskan, pengerjaan sistem bawah tanah untuk MRT Jakarta membuat pengerjaan proyek lebih efisien. Dengan sistem pengeboran bawah tanah yang memanfaatkan teknologi tinggi, pengerjaannya rampung lebih cepat dibandingkan konstruksi di atas tanah.

"Pengerjaan bawah tanah juga tidak perlu membebaskan lahan. Selain itu, selama waktu pengerjaan, dampak kemacetan lalu lintas bisa diminimalisasi. Ini karena tidak terlalu banyak memakan lahan dibandingkan dengan pembangunan konstruksi di atas tanah," ungkap Osaka.

Dengan demikian, pembangunan MRT Jakarta yang terbagi dalam dua tahap berbeda - yaitu tahap I lintas utara-selatan yang sedang dikerjakan dan tahap II lintas timur-barat -- bisa rampung sesuai jadwal. "Tahap I terbagi atas dua fase, yaitu fase I lintas Lebak Bulus-Bundaran HI sepanjang 15,7 km, dengan tujuh stasiun di atas tanah dan enam stasiun bawah tanah. Tujuh stasiun di atas tanah berlokasi di Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Sedangkan fase II dengan lintasan Bundaran HI-Kampung Bandan mempunyai panjang 8,1 km," rincinya.

Dana Jepang
Chief Representative Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia Naoki Ando mengatakan, pembangunan MRT Jakarta tahap I menggunakan bantuan pembangunan pemerintah (official development assistance/ODA) Jepang senilai 123 miliar yen atau setara US$ 1 miliar. "Proyek MRT tahap I fase I ditargetkan beroperasi secara komersial pada Februari 2019. Untuk line utara-selatan MRT ini diproyeksikan mengangkut 433.000 penumpang per hari, apabila sudah beroperasi penuh. Perkiraan lama perjalanan Lebak Bulus-Bundaran HI 25 menit. Lalu, dari Bundaran HI ke Kampung Bandan lama perjalanannya sekitar 41 menit," paparnya.

Menurut Naoki, pembangunan MRT Jakarta lintas timur-barat juga akan dibagi dalam dua tahap. Tahap I dengan rute Kalideres menuju Ujung Menteng, dengan panjang lintasan mencapai 31,7 km dan diproyeksikan terbagi pula dalam dua fase, yaitu fase 1 Kalideres-Cempaka Baru dan fase 2 Cempaka Baru-Ujung Menteng.

"Namun, untuk tahap kedua lintas timur-barat, masih diperlukan lagi konfirmasi atas kajian kelayakan (feasibility study/FS). Tahap II lintas timur-barat diperkirakan mempunyai panjang lintasan 56,2 km yang berlokasi di luar Jakarta. Apabila sudah rampung dan beroperasi penuh, lintas timur-barat akan melayani sekitar 1 juta penumpang setiap harinya," tambah dia.

Transfer Teknologi
Di tempat yang sama, Tanizaki mengatakan, proyek pembangunan MRT Jakarta ini menjadi salah satu program transfer teknologi dari Jepang ke Indonesia, khususnya dalam pembangunan infrastruktur transportasi. Banyak tenaga kerja Indonesia yang dilibatkan dalam proyek, hingga posisi deputy tunnel manager atau satu tingkat di bawah tunnel manager yang dipegang oleh orang Jepang.

"Memang, manajernya dari Jepang, tetapi ada deputi dan engineer kepala untuk pengoperasian dua TBM yang orang Indonesia. Dalam organisasi pembangunan terowongan bawah tanah ini ada empat tim yang terdiri atas 25 orang untuk setiap tim, yang semuanya adalah orang Indonesia," ungkap Dubes.

Dia menjelaskan baru pertama kali ini berkunjung ke lokasi pembangunan MRT Jakarta. Ia menekankan bahwa pekerjaan proyek dilakukan dengan menerapkan teknologi tinggi serta diimbangi dengan kerapian pengerjaan.

"Saya sangat terkesan dan saya diberi tahu bahwa pengerjaan ini sesuai jadwal. Saya juga sangat terkesan karena di sini keselamatannya diutamakan. Teknologi yang digunakan juga diutamakan untuk dilakukan transfer dari Jepang ke Indonesia," papar dia.

Sementara itu, Rachmat Gobel menegaskan, transfer teknologi penting dilakukan agar ke depan sumber daya manusia (SDM) Indonesia bisa membangun dan mengembangkan sendiri infrastruktur transportasi yang berteknologi tinggi. "Ada yang menarik dari proses dan cara kerja mereka. Kami sudah mendapatkan penjelasan adanya proses transfer teknologi dengan adanya orang Indonesia di sini. Kami berharap, proyek ini bisa menjadi proyek yang membangun tenaga kerja Indonesia yang berketerampilan untuk bisa berperan dalam pembangunan industri transportasi di Indonesia ke depan," ucapnya.

Lebih jauh, Rachmat mengatakan, pembangunan MRT Jakarta ini nantinya mampu menjadi salah satu solusi mengurai kemacetan di Ibu Kota. Pemerintah harus terus membangun fasilitas dan infrastruktur transportasi publik demi mengurangi kemacetan lalu lintas, terutama di kota-kota besar.

"MRT Jakarta pasti bisa mengurangi kemacetan. Tapi, setiap pertumbuhan ekonomi itu pasti membuat (kota) terus berkembang dan bertambah padat. Oleh karena itu, kita harus terus mendorong pembangunan infrastruktur transportasi publik," kata dia. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

MRT Timur-Barat Bakal Beroperasi pada 2030

MRT Timur-Barat Bakal Beroperasi pada 2030

JAKARTA
Waste Station di Jantung Transportasi Publik Jakarta

Waste Station di Jantung Transportasi Publik Jakarta

MULTIMEDIA
10 Negara dengan Transportasi Publik Ternyaman, Indonesia Termasuk?

10 Negara dengan Transportasi Publik Ternyaman, Indonesia Termasuk?

INTERNASIONAL
MRT Jakarta Beri Tarif Khusus Rp 243 pada Hari Ini

MRT Jakarta Beri Tarif Khusus Rp 243 pada Hari Ini

JAKARTA
MoU Diteken, MRT Rute Kembangan-Balaraja Mulai Dikaji

MoU Diteken, MRT Rute Kembangan-Balaraja Mulai Dikaji

JAKARTA
MRT, LRT, dan Transjakarta Beroperasi hingga Pukul 02.00 WIB Malam Ini

MRT, LRT, dan Transjakarta Beroperasi hingga Pukul 02.00 WIB Malam Ini

JAKARTA

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon