BI: Indonesia Perlu Mewaspadai Risiko Global
Minggu, 26 Februari 2017 | 07:36 WIB
Yogyakarta- Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, perekonomian global mulai menunjukkan geliatnya yang didukung dengan peningkatan harga komoditas. Hal ini akan berdampak positif pada perekonomian Indonesia yang ditopang permintaan domestik dan kinerja ekspor serta investasi.
Meski harga komoditas ekspor meningkat, sejumlah risiko global tetap perlu diwaspadai. Ke depan, BI terus mewaspadai sejumlah risiko baik yang bersumber dari ketidakpastian ekonomi dan keuangan global. "Harus mewaspadai risiko global terutama terkait kebijakan Amerika Serikat dan risiko geopolitik di Eropa," ujar Perry dalam kuliah umumnya ‘Outlook Tantangan dan Arah Kebijakan 2017’, di di Gedung Magister Manajemen UGM, Jumat (24/2).
Menurutnya, rencana ekspansi fiskal dan moneter di AS dapat mendorong penguatan mata uang dolar AS dan penyesuaian suku bunga lebih cepat. Sedangkan rencana relaksasi regulasi keuangan di negara Paman Sam ini bisa meningkatkan risiko stabilitas sistem keuangan global. "Kebijakan proteksinois perdagangan AS itu juga makin menambah ketidakpasitan global," kata dia.
Menurut Perry, ketidakpastian global akan mempengaruhi rupiah. Faktor lain pemicu pelemahan rupiah adalah tekanan inflasi, karena adminsitered prices dan kenaikan harga volatile foods. "Ditambah optimalisasi transmisi moneter dan stabilitas sistem keuangan. Karenanya arah bauran kebijakan BI 2017 difokuskan untuk menjaga stabilitas dan memperkuat potensi pemulihan ekonomi," terangnya.
Kirim Praktisi ke UGM
Sementara Universitas Gadjah Mada (UGM) dan BI sepakat memperkuat kerja sama tridharma perguruan tinggi bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Penandatangan naskah kerja sama dilakukan Rektor UGM Prof Dwikorita Karnawati dengan Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo.
Menurut Rektor UGM, kerja sama dengan BI itu, merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan kedaulatan bangsa. "Saat ini Indonesia menghadapi tantangan global yang semakin berat. Karenanya upaya peningkatan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM) diperlukan agar mampu menghadapi persaingan global," ucap Dwikorita.
Sedang Deputi Gubernur BI, Dr Perry Warjiyo menyebutkan, kerja sama dengan UGM telah dilakukan sejak tahun 2003, khususnya dengan Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Awal kerja sama dilakukan dalam bidang pendidikan yaitu merintis mata kuliah kebank-sentralan di FEB UGM. Bahkan saat ini sudah diikuti oleh 73 perguruan tinggi lain di Indonesia. "FEB UGM menjadi perintis mata kuliah kebank-sentralan. Setiap tahunnya tidak kurang dari 8.000 mahasiswa se-Indonesia yang mengambil mata kuliah ini," katanya.
Untuk kerja sama kali ini, dilakukan dalam skala yang lebih luas. Selain bekerja sama dalam pendirian mata kuliah dan kurikulum kebank-sentralan, juga membantu dalam pengajaran dengan mengirimkan praktisi BI untuk mengajar. "Kami berharap juga ada kerja sama riset untuk membantu dalam perumusan kebijakan," ujarnya.
Di bidang pengabdian masyarakat, BI berkomitmen untuk memberikan bantuan biaya pendidikan yang diwujudkan dalam program beasiswa penelitian untuk program sarjana dan pascasarjana, bahkan dengan membuka program internship di BI bagi mahasiswa UGM. "Melalui pembaruan MoU ini harapannya ada kolaborasi antara dunia akademis dengan praktik kebijakan. Sehingga makin mendekatkan lulusan perguruan tinggi untuk berdaya saing bangsa," tegasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




