AirNav Sebut Pengelolaan Slot Time Dilakukan Transparan
Jumat, 15 Desember 2017 | 15:29 WIB
Jakarta - Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau dikenal dengan AirNav Indonesia menyatakan, pengelolaan waktu terbang (slot time) dilakukan secara online melalui sistem aplikasi Chronos dengan mengedepankan transparansi. Sistem aplikasi Chronos sendiri merupakan sistem aplikasi real slot yang dibuat oleh AirNav Indonesia dan telah terkoneksi dengan sistem izin rute ( flight approval) milik Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemhub).
Sekretaris Perusahaan AirNav Indonesia, Didiet KS Radityo, mengatakan, sistem Chronos sudah diluncurkan pihaknya sejak 2015. Seluruh maskapai, lanjut dia, memiliki akses langsung untuk mengajukan, mengubah, hingga membatalkan slot.
"Ini semua online, real time serta transparan, setiap maskapai secara bersamaan bisa melihat dan mengakses pada tampilan yang sama sehingga setiap upaya kecurangan, jika ada, akan terlihat oleh lainnya. Ini merupakan komitmen AirNav untuk transparan dalam pengaturan slot dan meningkatkan layanan kepada seluruh pengguna jasa," ujar Didiet, di Jakarta, Jumat (15/12).
Pengelolaan slot time, lanjutnya, sesuai dengan KP 112 tahun 2017 tentang Tata Cara Pengelolaan Alokasi Ketersediaan Waktu Terbang Bandara. Didiet menjelaskan, untuk penerbangan reguler, maskapai telah mendapat izin terbang dan slot dari Direktorat Angkutan Udara berdasarkan periode terbang, baik winter maupun summer. Namun, jadwal penerbangan tidak selalu tepat waktu dikarenakan berbagai macam faktor, seperti kendala cuaca, alasan operasional hingga force majure. Ini membuat maskapai harus melakukan penyesuaian slot.
"Di sinilah maskapai menggunakan Chronos untuk melihat di jam manakah mereka bisa masuk. Maskapai akan mengecek bandara asal dan bandara tujuan, apakah kapasitasnya masih tersedia. Semua itu, online serta real time jadi sangat transparan," jelas Didiet.

Mengenai permintaan extra flight, Didiet menjelaskan, setiap maskapai harus mendapatkan flight approval (FA) dari Direktorat Angkutan Udara dengan memperhatikan kapasitas bandara. "Maskapai ke AirNav untuk mengetahui kapasitas runway bandara tersebut apakah memadai. Lalu, maskapai juga harus minta izin ke bandara asal maupun tujuan untuk mengetahui kapasitas apron, parking stand hingga kapasitas terminal. Kalau ini sudah klop semua, mereka mengajukan ke Direktorat Angkutan Udara. Setelah disetujui, maka flight approval-nya terbit dan saat dia masuk ke Chronos, FA-nya sudah akan ada di sana karena telah terintegrasi," jelasnya.
Didiet menjelaskan, persetujuan slot time pasti memperhatikan notice of airport capacity (NAC) dari bandara asal maupun tujuan. "Pada sisi AirNav, kami memastikan penerbangan dapat dilayani sesuai dengan kapasitas," katanya.
Dia mengambil contoh bandara tersibuk di Indonesia, Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta). "Untuk di Soetta, AirNav dan AP II melakukan peningkatan pergerakan pesawat. AirNav melakukan terobosan dengan investasi peralatan, peningkatan prosedur, dan peningkatan SDM. AP II sebagai pengelola bandara, melakukan investasi di landasan pacu, seperti penambahan rapid exit taxiway dan rencana pembangunan east cross taxiway. Maskapai sendiri meningkatkan performansi dari kesigapan pergerakan atau efisiensi waktu," jelasnya.
Hasilnya, terjadi peningkatan jumlah kapasitas pergerakan Pada tahun 2012 sebelum AirNav dibentuk kapasitas bandara Soekarno-Hatta hanya 52 pergerakan per jam. Di tahun 2013 setelah AirNav Indonesia terbentuk kapasitas penerbangan di bandara Soekarno-Hatta meningkat sebanyak 64 pergerakan. Pada tahun 2014 menjadi 72 pergerakan, tahun 2016 menjadi 76 pergerakan dan di tahun 2017 ini menjadi 81 pergerakan per jam.
"Ini sesuai dengan Instruksi Menteri (IM) Nomor 16 tahun 2017 menggantikan IM Nomor 8 tahun 2016," terangnya.
Didiet menambahkan, kapasitas yang di-publish tersebut bukanlah kapasitas 100 persen bandara, karena AirNav harus memberikan ruang untuk emergency flight atau extra flight.
"Kalau terjadi sesuatu kan kami harus siap melayani, tidak bisa penerbangan emergency jadi mengantri karena kapasitas tidak ada. Makanya, kapasitas runway yang dipublish tersebut tidak 100 persen," ujarnya.
Didiet menyampaikan, peningkatan kapasitas runway dapat terjadi karena program-program yang dilakukan AirNav, pengelola bandara hinnga maskapai.
"Dalam IM tersebut, jelas disebutkan bahwa jumlah kapasitas tersebut akan dievaluasi sesuai dengan peningkatan navigasi penerbangan. Jadi memang arahnya kapasitas bandara harus meningkat, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, namun tetap memprioritaskan keselamatan penerbangan. AirNav sangat terbuka kepada semua pihak yang menginginkan melihat pengelolaan slot," kata Didiet.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




