Lampu Tenaga Surya Gantikan Pelita di Pulau Buru
Rabu, 20 Desember 2017 | 13:24 WIB
Buru - Tak ada lagi asap membumbung dari pelita di dalam rumah-rumah warga Desa Waengapan pada malam hari. Pelita berbahan bakar getah pohon damar merupakan sumber penerangan di komunitas adat terpencil tersebut. Kini seluruh rumah di desa tersebut sudah dipasang lampu tenaga surya hemat energi (LTSHE) yang merupakan program Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Sebanyak 100 paket LTSHE telah dipasang di seluruh rumah warga Waengapan.
Salah satu warga Desa Waengapan Piter Labuan menceritakan, untuk bisa menyalakan pelita membutuhkan perjuangan. Pasalnya pohon damar diperoleh di hutan setelah menempuh perjalanan satu hari satu malam. Untuk mendapatkan getah, maka pohon damar itu disayat. Cairan berwarna putih yang keluar dari pori-pori pohon itu kemudian ditampung di wadah dan dibiarkan sampai penuh. Setelah penuh lalu dibiarkan mengeras atau menjadi kristal. "Sampai jadi kristal ini butuh waktu dua sampai tiga hari," kata Piter di Waengapan, Rabu (20/12).
Piter menjelaskan, kristal damar itu kemudian dibawa ke desa menggunakan anyaman bambu atau yang disebut tindil. Bobot kristal yang dibawa itu bervariasi antara 20-30 kilogram. Kristal damar ditumbuk dan dimasukkan ke dalam ruas bambu. Tumbukan kristal itu mudah terbakar sehingga untuk menyalakan pelita, cukup disulut dengan api. Sebanyak dua pelita ada di ruang tengah maupun depan rumah. Hanya saja Piter tidak bisa memperkirakan berapa lama 30 kg kristal damar mampu menerangi rumah. "Tergantung pemakaian. Kalau sudah mau habis, kami pergi lagi mencari," ujarnya.
Untuk mencapai Desa Waengapan Kecamatan Lolong Guba Kabupaten Buru, Maluku membutuhkan waktu sekitar tiga jam berkendara dari Bandara Namrole. Kontur akses menuju lokasi berbukit dan sebagian sudah dilapisi oleh aspal. Di beberapa titik merupakan daerah rawan longsor. Sekitar 3 kilometer menuju desa tersebut masih berupa tanah merah. Jalan menanjak dan menurun menjadi tantangan tersendiri untuk mencapai desa Waengapan.
Kepala Desa Waengapan Antonnius Nurlatu menambahkan LTSHE yang dibagikan Kementerian ESDM sangat membantu masyarakat. Pasalnya cahaya pelita belum cukup terang untuk anak belajar. Selain itu, asap yang membumbung dari pelita itu membuat mata perih. Namun kini proses belajar anak-anak desa tak lagi terkendala. "Mau belajar bagaimana, damar melelehnya cepat, enggak sama seperti lilin. Asapnya juga perih ke mata, hitam ke langit-langit. Makanya penderitaan di sini tidak sedikit," ungkapnya.
Pantauan Beritasatu.com, LTSHE memiliki berbagi fungsi. Tidak hanya untuk menerangi rumah, tapi juga dijadikan semacam senter bagi warga. Lampu tenaga surya itu memang bisa dilepas dari kabel instalasi. Di dalam mangkuk lampu terdapat baterai. Selama baterai itu memiliki daya maka cahaya bisa terpancar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




