BI Rate Tetap, Bunga Instrumen Moneter Dinaikkan
Kamis, 10 Mei 2012 | 16:30 WIB
Sebagai sinyal BI siap menyerap likuiditas jangka pendek.
Meski Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di level 5,75 persen, namun bunga instrumen operasi moneter akan dinaikkan.
Langkah ini untuk meningkatkan likuiditas.
“Keputusannya kita lihat nanti sore setelah lelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI), suku bunga dinaikkan agar likuiditas masuk ke BI,” kata Direktur Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat (PSHM) BI Difi Ahmad Johansyah kepada wartawan di Gedung BI, Jakarta, hari ini.
Langkah BI menaikkan bunga instrumen operasi moneter sebagai sinyal otoritas moneter tersebut siap menyerap likuiditas jangka pendek yang berlebihan di tengah ekspektasi inflasi yang tinggi.
Indikator tingginya ekspektasi inflasi diikuti pelemahan nilai tukar rupiah, dan instrumen jangka menengah panjang yaitu Surat Berharga Indonesia, term deposit (TD), dan reverse repo Surat Utang Negara (SUN).
Difi mengatakan, langkah BI mempertahankan BI rate karena secara jangka panjang fundamental ekonomi masih cukup baik. Apalagi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) belum pasti. Meski demikian, masih ada potensi turbulensi eksternal, sehingga BI harus memitigasi tekanan jangka pendek," kata Difi.
“Yield curve yang ada di pasar uang, termasuk SUN akan bergerak naik. Jadi, lebih menarik bagi investor membeli sekuritas domestik,” kata dia.
Direktur Eksekutif Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat (PSHM) BI Dody Budi Waluyo menambahkan, kenaikan bunga instrumen moneter tidak dapat dipublikasikan karena SBI memiliki mekanisme lelang. Sistem lelang tidak mungkin mematok bunga sejak awal.
Meski Bank Indonesia (BI) tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) di level 5,75 persen, namun bunga instrumen operasi moneter akan dinaikkan.
Langkah ini untuk meningkatkan likuiditas.
“Keputusannya kita lihat nanti sore setelah lelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI), suku bunga dinaikkan agar likuiditas masuk ke BI,” kata Direktur Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat (PSHM) BI Difi Ahmad Johansyah kepada wartawan di Gedung BI, Jakarta, hari ini.
Langkah BI menaikkan bunga instrumen operasi moneter sebagai sinyal otoritas moneter tersebut siap menyerap likuiditas jangka pendek yang berlebihan di tengah ekspektasi inflasi yang tinggi.
Indikator tingginya ekspektasi inflasi diikuti pelemahan nilai tukar rupiah, dan instrumen jangka menengah panjang yaitu Surat Berharga Indonesia, term deposit (TD), dan reverse repo Surat Utang Negara (SUN).
Difi mengatakan, langkah BI mempertahankan BI rate karena secara jangka panjang fundamental ekonomi masih cukup baik. Apalagi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) belum pasti. Meski demikian, masih ada potensi turbulensi eksternal, sehingga BI harus memitigasi tekanan jangka pendek," kata Difi.
“Yield curve yang ada di pasar uang, termasuk SUN akan bergerak naik. Jadi, lebih menarik bagi investor membeli sekuritas domestik,” kata dia.
Direktur Eksekutif Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat (PSHM) BI Dody Budi Waluyo menambahkan, kenaikan bunga instrumen moneter tidak dapat dipublikasikan karena SBI memiliki mekanisme lelang. Sistem lelang tidak mungkin mematok bunga sejak awal.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online
SUMATERA UTARA
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
B-FILES
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online




