ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Semen Baturaja Optimistis Penjualan White Clay 50.000 Ton

Selasa, 26 Mei 2020 | 14:38 WIB
MA
WP
Penulis: Muhammad Nabil Alfaruq | Editor: WBP
Ilustrasi semen.
Ilustrasi semen. (Antara/M Risyal Hidayat)

Jakarta, Beritasatu.com - PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) optimistis merealisasikan volume penjualan tanah liat (white clay) sebanyak 50.000 ton tahun ini. Sedangkan realisasi penjualan hingga Mei 2020 telah mencapai 8.265 ton.

Corporate Secretary Semen Baturaja Basthony Santri mengatakan, penjualan tanah liat hingga Mei 2020 ini telah mencapai 8.265 ton dari target tahun ini 50.000 ton. Bisnis tanah liat digarap perseroan bekerja sama dengan PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri). Aksi ini bagian dari pengembangan bisnis di tengah oversupply semen nasional dan diharapkan bisa menopang kinerja tahun ini. Meskipun kondisi perekonomian Indonesia saat ini tengah dilanda oleh pandemi Covid-19, Basthony mengungkapkan, perseroan optimis untuk bisa mencapai target penjualan tanah liat hingga 50.000 ton sampai akhir 2020.

"Kami optimistis target tercapai, seiring tingginya permintaan white clay untuk produksi pupuk NPK milik Pusri," ujar dia dikutip Investor.co.id baru-baru ini.

ADVERTISEMENT

Selain Pusri, dia mengatakan, perseroan tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan pupuk lainnya yang diniliai memiliki prospektif permintaan white clay. Namun, pihaknya belum mau mengatakan perusahaan mana yang menjadi rekan bisnis baru untuk perseroan.

"Kami sedang menjajaki kerja sama jual beli white clay dengan perusahaan lainnya karena selain dapat digunakan sebagai salah satu bahan baku pada pembuatan pupuk, white clay juga digunakan sebagai salah satu bahan baku pada pembuatan keramik dan kosmetik," ujar dia.

Terkait kinerja keuangan perseroan di kuartal I-2020 ini, Basthony mengatakan penjualan semen di pasar ritel dan proyek masih berjalan relatif stabil mengikuti permintaan di wilayah Sumatera bagian Selatan (Sumbagsel). Hal ini didorong dengan adanya kebijakan pemerintah untuk tetap memperkenankan pekerjaan konstruksi dan logistik tetap berjalan di tengah kondisi saat ini.

Hingga bulan April, tercatat market share perseroan di Sumbagsel mengalami peningkatan 1 persen dibandingkan dengan Maret 2020. Perseroan telah melakukan berbagai upaya untuk menekan biaya dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Dari segi produksi, upaya yang dilakukan berupa efisiensi biaya energi terutama dalam penggunaan batu bara dan listrik, serta efisiensi biaya bahan dengan penggunaan alternatif material dan pengelolaan limbah B3.

Sebelumnya, emiten yang bergerak di industri semen ini telah memproyeksikan penurunan penjualan semen sebesar 20 persen sepanjang semester I-2020. Hal ini dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 yang masih terjadi di Indonesia. Basthony mengatakan bahwa penjualan perseroan sudah terkoreksi sebesar 14 persen hingga Februari 2019, seiring dengan koreksi permintaan semen di Sumbagsel sebesar 12 persen. Meskipun demikian, perseroan masih tetap optimis terhadap pertumbuhan penjualan sepanjang tahun 2020 yang akan ditopang oleh pertumbuhan di sektor properti dan infrastruktur sebagai penyerap utama semen.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon